Raksasa Eropa Bahaya! Rasio Utang Meroket Tembus 121%-Bersiap Krisis
Jakarta, CNBC Indonesia - Proyeksi terbaru dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa rasio utang publik Prancis diperkirakan akan meroket hingga 119,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026 dan menembus 121,7% pada 2027. Kondisi mengerikan ini terjadi di tengah naiknya premi pinjaman Prancis atas Jerman yang kini melonjak melampaui angka satu poin persentase.
Mengutip Euractiv, Senin (21/09/2026), angka-angka terbaru yang diserahkan kepada Dewan Tinggi Keuangan Publik ini menyoroti kemerosotan lebih lanjut dari rasio 115,7% yang tercatat pada tahun 2025. Kementerian juga memperkirakan defisit anggaran akan menembus 5,4% dari PDB pada tahun 2026. Rangkaian proyeksi ini dipublikasikan sebagai bagian dari persiapan mendesak pemerintah untuk menyusun anggaran berikutnya.
Masalah utamanya saat ini adalah kredibilitas rute Prancis menuju stabilisasi keuangannya. Utang diproyeksikan akan terus membengkak, sementara pemerintah menghadapi beban pinjaman yang jauh lebih mahal serta pilihan sulit terkait pengeluaran dan pendapatan negara.
Ancaman Rasio Utang & Peringatan Bank Sentral
Angka-angka terbaru ini menyiratkan adanya lonjakan tajam rasio utang sebesar 3,6 poin persentase antara tahun 2025 dan 2026, yang disusul oleh kenaikan 2,4 poin pada tahun 2027. Perubahan tersebut menggambarkan skala pergerakan secara umum, bukan jumlah mutlak yang harus dibayar Prancis dalam satu tahun.
Sebagai catatan, utang publik adalah stok yang terakumulasi dari waktu ke waktu, sementara defisit mengukur kesenjangan tahunan antara pendapatan dan pengeluaran. Perbedaan ini menjelaskan mengapa pemerintah dapat mengurangi defisitnya tanpa segera menstabilkan rasio utangnya, karena stabilisasi juga bergantung pada pertumbuhan ekonomi nominal, biaya bunga, serta perubahan lain yang mempengaruhi kewajiban dan aset sektor publik.
Bank Sentral Prancis (Banque de France) sebenarnya telah memperingatkan kesulitan mengerikan ini. Dalam proyeksi ekonomi bulan Juni lalu, mereka telah memprediksi defisit sebesar 5,2% dari PDB tahun ini. Signifikansi umum dari proyeksi bank sentral dan kementerian adalah bahwa perbaikan defisit tahunan yang moderat tidak akan secara otomatis menghasilkan kendali penuh atas beban utang yang terakumulasi. Bahkan, utang diprediksi baru akan mencapai puncaknya di kisaran 122% PDB pada 2028.
Premi Pasar Melejit, PM Siapkan Penghematan
Premi yang dibayar Prancis untuk meminjam relatif terhadap Jerman telah melampaui 100 basis poin minggu ini, mencapai level yang terakhir kali terlihat selama krisis utang zona euro. Pelebaran selisih ini sejalan dengan kekhawatiran tajam tentang prospek fiskal Prancis dan kapasitas politik untuk mewujudkan penyesuaian yang direncanakan.
Merespons krisis yang makin di luar kendali, Perdana Menteri Sébastien Lecornu tengah menyiapkan langkah drastis.
"Kami merencanakan upaya penghematan sebesar 54 miliar euro (sekitar US$ 60 miliar atau Rp 1.068 triliun) dalam anggaran tahun 2027," tegasnya.
"Namun kami harus menghadapi parlemen yang terbelah dan tekanan besar atas lonjakan biaya hidup masyarakat. Ini adalah ujian krusial bagi prospek fiskal dan kapasitas politik negara," pungkas Lecornu.
Sebagai ilustrasi, selisih 100 basis poin berarti ada perbedaan satu poin persentase antara imbal hasil yang dibandingkan. Efek ini bekerja melalui pinjaman baru dan pembiayaan kembali. Perbedaan satu poin persentase pada pinjaman 10 miliar euro (sekitar US$ 11,1 miliar atau Rp 197,5 triliun) setara dengan tambahan 100 juta euro (sekitar US$ 111 juta atau Rp 1,97 triliun) dalam beban bunga tahunan.
Ujian Berat Anggaran & Intervensi Eropa
Tantangan terbesar Prancis kini adalah meramu kebijakan yang kebal dari alotnya negosiasi parlemen dan pengawasan ekonomi. Angka penghematan total membutuhkan garis dasar yang dapat diidentifikasi, karena perubahan berulang pada pengeluaran atau pendapatan memiliki efek yang berbeda pada prospek jangka menengah dibandingkan penerimaan satu kali. Asumsi pertumbuhan juga patut diwaspadai, sebab anggaran akan menjadi sangat rentan jika hanya bersandar pada proyeksi pertumbuhan yang berpotensi gagal terwujud.
Kerangka kerja Eropa turut menambah daftar tekanan. Pada Januari 2025 lalu, Dewan Uni Eropa secara khusus merekomendasikan agar Prancis segera mengakhiri situasi defisit berlebihannya pada tahun 2029. Isu utama saat ini telah bergerak melampaui argumen pembatalan proposal yang diajukan oleh Jean-Luc Mélenchon dan ditolak oleh Christine Lagarde.
Angka-angka pemerintah saat ini justru menjadi ujian utama apakah pilihan kebijakan mereka dapat mengubah lintasan yang terus menanjak hingga 2027. Para investor dan pengawas fiskal kini akan sangat menantikan penjelasan yang kredibel mengenai kapan tepatnya utang akan stabil, dan bagaimana rencana darurat jika pertumbuhan atau biaya pinjaman berubah menjadi jauh lebih buruk dari perkiraan.
(tps/tps)