Kemenperin Ungkap Kesiapan Ekosistem EV di Indonesia

Khoirul Anam, CNBC Indonesia
Kamis, 17/09/2026 13:45 WIB
Foto: Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP), Kementerian Perindustrian Mahardi Tunggul Wicaksono di acara COFFEE MORNING 2026 dengan tema “Beyond EV: Building a Resilient Automotive Ecosystem Amid Global Supply Chain Shifts” di Casalena Jakarta, Rabu (16/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP), Kementerian Perindustrian Mahardi Tunggul Wicaksono ekosistem electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik perlu untuk dikembangkan. Hal ini dilakukan baik dengan kesiapan produsen maupun industri dari hulu ke hilir, termasuk recycle battery.

"Bicara industri hulu, pertambangan nikel 3 hingga 4 perusahaan ready, cell battery dan packaging 7-8 industri sudah ready," ungkap dia dalam Coffee Morning "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift" yang diselenggarakan CNBC Indonesia bersama DBS Indonesia, Rabu (16/9/2026).

Sedangkan dari sisi produsen, terdapat 70 perusahaan kendaraan listrik roda dua, sebanyak 10 perusahaan untuk kendaraan listrik roda empat, dan sebanyak 3 hingga 5 perusahaan untuk bus elektrik.


"Ke depan soal recycle battery, industrinya harus dipikirkan," tambah Mahardi.

Mahardi menambahkan pemerintah akan melakukan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan mulai dari hulu dan hilir, lembaga terkait, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Perindustrian.

"Pemerintah dan Kemenperin tidak tinggalkan industri lain. Kami dengan regulasi menggunakan multi jalur atau multi pathway dalam mengembangkan kondisi kendaraan dari motor ini baik ICEV (Internal Combustion Engine Vehicle maupun EV, yang di dalamnya ada hybrid, ada PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle)," terang dia.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML), Dhery Rachman menekankan pentingnya pengembangan ekosistem EV di Indonesia demi mendorong konsumen bisa beralih ke kendaraan listrik.

"Jadi sebelum ke tantangan terbesarnya adalah bagaimana konsumen bisa nyaman dulu. Ditambah lagi, tidak bisa dipungkiri dengan tensi geopolitik saat ini juga berpengaruh pada ekosistem baterai supply-nya, mineral-nya, conductor, dan teknologi. Tapi dari kami melihat, justru hal ini merupakan satu membuka peluang diversifikasi rantai pasok di Indonesia," ungkap dia.

Menurutnya, sinkronisasi ekosistem menjadi titik lemah saat ini, seperti baterai, charging, pembiayaan, dan bengkel. Dhery berharap semua itu bisa jalan bersama-sama, apalagi tidak dipungkiri bahwa Daya beli yang menurun juga menjadi tantangan secara global.

"EV itu mesti bareng-bareng, kalau ada satu yang terhambat maka akan berpengaruh. Menurut kami kita berjalan bareng-bareng, kita bisa berjalan sekali lebih cepat," pungkas Dhery.


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Deretan Emiten Ini Menopang Mimpi RI Jadi Pemain EV Global: INCO-VKTR