Bukan Main! Amran Bilang E50-B50 Sukses RI Bisa Hemat Rp500 Triliun
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkap potensi penghematan devisa hingga sekitar Rp500 triliun per tahun apabila program campuran bioetanol 50% atau E50, dan biodiesel 50% atau B50 berjalan penuh.
Amran mengatakan, nilai penghematan tersebut setara dengan sekitar US$30 miliar. Menurutnya, penerapan E50 dan B50 menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan kemandirian energi nasional.
"Nilai kita bisa hemat kalau seluruhnya bisa selesai E50 dengan B50 itu US$30 miliar. Artinya kurang lebih Rp500 triliun per tahun kita hemat devisa," kata Amran kepada wartawan di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Pemerintah saat ini memang tengah menyiapkan pengembangan bioetanol untuk menuju E50. Sebelumnya, pemerintah menargetkan produksi E20 dalam dua tahun mendatang sebagai tahap awal, sebelum secara bertahap meningkatkan bauran etanol hingga E50.
Untuk mengejar target tersebut, Amran menyebut pemerintah tengah menyiapkan lahan hingga 1-2 juta hektare. Lahan itu akan digunakan untuk mengembangkan komoditas bahan baku etanol, mulai dari tebu, singkong hingga jagung.
"Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya. Kita gerakan masif seluruh Indonesia," ujarnya.
Dari tiga komoditas tersebut, tebu menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Amran menyebut kebutuhan lahan untuk tebu mencapai sekitar 1 juta hektare.
"Tetapi yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh para Dirjen dari Kementerian Kehutanan, Planologi, kemudian Deputi dari BUMN, kita akan bergerak bersama," ucap dia.
Bisa Ciptakan 8 Juta Lapangan Kerja
Selain menghemat devisa, Amran menyebut pengembangan ekosistem bioenergi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Menurutnya, jika program tersebut berjalan, setidaknya 8 juta tenaga kerja dapat terserap. Ia menekankan tenaga kerja yang tercipta bukan hanya bersifat sementara.
"Kalau ini terjadi, minimal itu 8 juta tenaga kerja tercipta, dan tenaga kerja permanen. Hebat kan? Iya, hebat Indonesiaku," kata Amran.
Amran menjelaskan, pemerintah akan melibatkan BUMN dan swasta dalam pengembangan industri etanol. BUMN akan diprioritaskan terlebih dahulu sesuai kemampuan, sementara swasta akan dilibatkan setelah kapasitas BUMN maksimal.
"BUMN kita upayakan, kita prioritaskan BUMN dulu. Kalau BUMN oke, sudah maksimal, bisa 30%, bisa 40%, bisa 50%. Pokoknya berapa kemampuan BUMN, sesudah itu swasta," ujarnya.
Ia menilai swasta akan tertarik masuk karena pemerintah menyiapkan kepastian lahan untuk pengembangan proyek.
"Dan swasta pasti antre. Pengalaman kami antre. Yang penting kepastian lahan. Makanya ini lahan kita menjadi prioritas," tutur dia.
Target E20 2029, Menuju E50
Amran mengatakan, penerapan E50 tidak akan dilakukan sekaligus. Pemerintah akan meningkatkan bauran etanol secara bertahap.
"Iya dong. Mungkin E5, E10, E20 di 2029. Bisa prakiraan kita, menuju nanti, bisa kita hitung ya kalau kita bergerak dari sekarang itu bisa E40 2030-2031," katanya.
Pemerintah sebelumnya menyatakan E20 menjadi target awal dalam dua tahun, dengan kebutuhan bahan baku etanol yang akan dipenuhi dari dalam negeri. Pemerintah juga telah memetakan kebutuhan lahan sekitar 2 juta hektare untuk mendukung produksi etanol.
Amran menilai apabila E50 dan B50 dapat berjalan secara penuh, manfaat ekonominya tidak hanya berasal dari pengurangan impor energi. Dana yang sebelumnya keluar untuk membeli energi dari luar negeri juga dapat berputar di dalam negeri.
"Karena yang terpenting adalah etanol diproduksi di dalam negeri. Itu nilainya energi ya, biofuel. Itu nilainya Rp500 triliun. Kalau Rp500 triliun ini berputar di petani Indonesia, ini bupati di samping saya yang hebat-hebat," pungkas dia.