Breaking: Kim Jong Un Ngamuk, Korut Tembak Rudal Balistik
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah pimpinan Kim Jong Un di Korea Utara (Korut) dilaporkan kembali menembakkan rudal yang diduga rudal balistik ke arah Laut Timur. Militer Korea Selatan (Korsel) menyatakan setidaknya ada dua rudal ditembakkan dalam waktu tiga jam, Minggu.
Rudal pertama terbang sekitar 450 km dari Wonsan. Sementara rudal kedua terbang lebih dari 600 km.
Mengutip Reuters, Senin (21/9/2026), ini merupakan rangkaian uji coba kedua dalam kurun waktu sekitar satu minggu. Penembakkan rudal ini terjadi beberapa hari setelah Pyongyang menuduh Amerika Serikat (AS) memicu ketegangan di Semenanjung Korea melalui serangkaian latihan militer.
"Hampir tiga jam setelah meluncurkan rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur pada Minggu sore, Korea Utara meluncurkan rudal serupa," lapor Kementerian Pertahanan Korsel.
"Mendeteksi uji coba peluncuran pertama sekitar pukul 15.00 (waktu setempat)... mengidentifikasi senjata tersebut sebagai rudal balistik," kata Kepala Staf Gabungan Militer Korsel.
Hal sama juga dilaporkan Jepang. Kementerian Pertahanan Jepang pun memberi sinyal kalau rudal yang ditembak merupakan rudal balistik.
Dalam siarannya, NHK melaporkan bahwa proyektil tersebut jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang. Jepang juga melayangkan protes melalui saluran kedutaan besar di Beijing, China.
"Serangkaian tindakan Korut ni mengancam perdamaian dan keamanan Jepang, kawasan ini, serta masyarakat internasional," ujar Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi sebagaimana dikutip oleh Nikkei.
AS juga memberi komentar. Melalui Komando Pasifik AS, Paman sam mengatakan berkonsultasi secara erat dengan sekutu serta mitra atas tindakan Korut.
"Berdasarkan penilaian saat ini, peristiwa-peristiwa tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel atau wilayah AS, maupun terhadap sekutu kami," demikian pernyataannya di X.
Sebelumnya Sabtu, Korut menolak resolusi badan pengawas nuklir PBB yang menentang program nuklir Pyongyang. Kim Yo Jong, saudara perempuan berpengaruh dari pemimpin Kim Jong Un, menyalahkan latihan militer yang dipimpin AS adalah sumber semakin memburuknya kondisi di Semenanjung Korea.
(sef/sef)