Boikot Menggila! Produk Amerika Telah Disingkirkan dari Supermarket

Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
Minggu, 20/09/2026 18:30 WIB
Foto: Bendera AS dan Kanada terlihat di titik tengah Jembatan Internasional Gordie Howe yang menghubungkan Windsor, Ontario ke Detroit, Michigan, AS, di Windsor, Ontario, Kanada, 27 Juli 2026. (REUTERS/Rebecca Cook)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang boikot produk Amerika Serikat (AS) di Kanada telah mengubah wajah industri ritel pangan.

Supermarket hingga toko kelontong memperketat label asal produk dan mengalihkan rantai pasokan untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang AS.

Pada pekan lalu, di Ontario, kepala jaringan Vince's Market, Giancarlo Trimarchi, bahkan turun langsung ke media sosial untuk meyakinkan konsumen sebagian besar produk segar di tokonya berasal dari Kanada.


Langkah itu dilakukan setelah tokonya dibanjiri email dan komentar yang memprotes keberadaan produk AS di rak.

"Situasinya jauh lebih agresif kali ini dibandingkan tahun lalu," kata Trimarchi, dikutip Reuters, Minggu (20/9/2026). Empat gerainya di wilayah Greater Toronto Area kini menargetkan hingga 90% produk lokal dan bahkan memasok stroberi dari Quebec untuk menggantikan pasokan dari AS.

Perubahan tersebut terjadi di tengah perang dagang yang dipicu kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

Boikot yang sebelumnya telah muncul kini semakin kuat setelah perundingan perdagangan menemui jalan buntu dan Trump mengeluarkan perintah untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi "Lake America".

"Dulu kami selalu dihadapkan pada pilihan menyeimbangkan antara kualitas versus harga. Sekarang, pilihannya adalah kualitas versus harga versus negara asal produk," ujar Trimarchi. Perubahan sumber pasokan juga meningkatkan biaya operasional, sehingga sejumlah toko harus memangkas anggaran lain, termasuk iklan.

Tekanan konsumen turut mendorong peritel besar mengambil langkah serupa. Loblaw Cos, peritel makanan terbesar di Kanada, kembali memasang papan bergambar daun maple di area produk segar untuk menunjukkan asal barang, sementara label khusus "T" digunakan untuk mengidentifikasi produk yang terdampak tarif. Metro juga menyatakan akan memprioritaskan produk lokal.

"Telah terjadi perubahan permanen dalam jiwa masyarakat Kanada," kata Gary Sands, Wakil Presiden Senior Kebijakan Publik dan Advokasi Federasi Peritel Independen Kanada.

Data pemerintah menunjukkan impor sayuran Kanada dari AS turun menjadi 62,6% pada Juli, dibandingkan 69% pada periode yang sama 2023.

Perubahan ini terjadi ketika lebih dari separuh impor buah Kanada masih berasal dari AS, tetapi konsumen semakin selektif terhadap produk berdasarkan negara asal dan kepemilikan perusahaan.

Bagi sebagian konsumen, boikot menjadi bentuk penolakan terhadap kebijakan Washington. John Ambard, insinyur perangkat lunak berusia 27 tahun di Toronto, mengaku selalu memeriksa label dan mencari informasi mengenai kepemilikan perusahaan sebelum membeli produk.

"Saya merasa sangat marah dengan Amerika atas apa yang terjadi saat ini. Sikap mereka sama sekali bukan tindakan seorang teman," katanya.

Di sisi lain, Kanada mulai mencari pemasok dari negara lain, termasuk Spanyol, Brasil, dan Honduras.

Pemerintah juga mengalokasikan C$3 miliar atau sekitar Rp33,7 triliun selama 10 tahun untuk memperluas pembangunan rumah kaca dan meningkatkan produksi domestik, sementara pemilik toko seperti Gordon Dean menilai rantai pasok baru yang lebih terdiversifikasi dapat mengurangi ketergantungan Kanada terhadap AS.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Video: AS-Kanada Memanas, Trump Sebut Kanada Manfaatkan AS