6 Photos
Tentara Iran Seret Peti Mati Trump-Netanyahu Saat Milisi Pawai Akbar
Demo Iran terbesar sejak perang dengan AS-Israel digelar di Teheran. Presiden Pezeshkian hadir saat konflik terus mengancam jalur energi global.
Anggota perempuan pasukan milisi Iran (Basij) mengikuti pawai militer di Teheran, Iran, Jumat (18/9/2026). Pawai tersebut merupakan bagian dari unjuk rasa yang diselenggarakan pemerintah sebagai bentuk perlawanan setelah perang berlangsung selama berbulan-bulan. Aksi ini menjadi demonstrasi terbesar sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel dimulai pada Februari lalu. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Sejumlah pejabat tinggi Iran turut hadir dalam demonstrasi tersebut, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Pasukan Basij Iran Hossein Taeb. Basij merupakan sayap paramiliter dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Aksi ini digelar ketika Teheran menghadapi tekanan besar di bidang militer dan ekonomi. Meski demikian, pemerintah Iran tetap menunjukkan sikap menantang dengan menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Iran juga memperoleh posisi tawar baru setelah sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, memperketat kendali atas jalur strategis di Laut Merah. Kondisi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Sejumlah massa membawa spanduk bertuliskan “We Will Kill” atau “Kita akan Membunuh” yang disertai gambar Donald Trump. Setelah enam bulan perang, Amerika Serikat dan Iran masih terjebak dalam konflik berkepanjangan yang menguras kekuatan atau perang atrisi, dengan sejumlah periode eskalasi yang kembali meningkatkan ketegangan. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Sejumlah personel militer turut melakukan aksi dengan menginjak dan menyeret peti mati bergambar Presiden AS Donald Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Meluasnya konflik hingga Yaman dan Arab Saudi memicu kekhawatiran baru terhadap distribusi minyak dunia. Ancaman terhadap jalur alternatif Laut Merah bagi ekspor negara-negara Teluk terjadi saat lalu lintas energi melalui Selat Hormuz masih mengalami gangguan. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)