Internasional

Sineas Israel Bongkar Kejahatan Negaranya Lewat Film, Netanyahu Ngamuk

tps, CNBC Indonesia
Kamis, 17/09/2026 13:35 WIB
Foto: REUTERS/Amir Cohen

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah merancang undang-undang baru untuk mencabut kewarganegaraan orang-orang yang dianggap mencemarkan nama baik tentara Israel. Manuver hukum ini menjadi eskalasi serangan langsung terhadap sutradara pemenang Oscar di balik film dokumenter Gaza bertajuk NAZA.

Mengutip The Guardian, Kamis (17/9/2026), dokumenter yang mengungkap pembunuhan massal warga sipil di Gaza ini baru saja memenangkan hadiah khusus juri di Festival Film Venesia akhir pekan lalu, usai mendapat rekor standing ovation selama 25 menit. Namun nahasnya, tak lama setelah kemenangannya, para sutradara yakni Yuval Abraham dan Rachel Szor justru dibanjiri ancaman dari pejabat senior hingga milisi sayap kanan Israel.

Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, menuduh para sineas tersebut telah melakukan pengkhianatan terhadap negara dan berterima kasih kepada Netanyahu atas rencana mengubah undang-undang demi mencabut kewarganegaraan mereka.


"Kami akan mencabut kewarganegaraan siapapun yang mencemarkan nama baik tentara IDF di seluruh dunia, dia akan sangat terluka secara finansial," tegasnya.

Netanyahu diketahui bermaksud mempromosikan dua RUU. RUU pertama akan melipatgandakan nilai gugatan pencemaran nama baik menjadi 1 juta shekel tanpa perlu bukti kerugian, sedangkan RUU kedua akan mengatur pencabutan kewarganegaraan bagi siapa saja yang mencemarkan nama baik IDF dan negara Israel di mata dunia.

Teror Pembunuhan & Perburuan

Pada Rabu malam, puluhan aktivis sayap kanan yang terafiliasi dengan partai ekstremis Otzma Yehudit pimpinan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mengepung rumah orang tua Rachel Szor. Demonstran secara beringas menyerukan hukuman mati bagi para "pengkhianat" dan menuntut agar rumah keluarga pembuat film itu dihancurkan rata dengan tanah.

Ben-Gvir secara terbuka menyebut sutradara itu "memalukan", sementara Netanyahu mengecam film tersebut karena menggambarkan tentara IDF sebagai penjahat perang. Netanyahu bahkan sengaja mengunggah klip video lama yang memperlihatkan Abraham saat berkonfrontasi dengan tentara di Tepi Barat untuk memanaskan situasi.

Hal serupa juga dilontarkan oleh Kepala Staf IDF, Eyal Zamir. Ia berjanji akan menggunakan setiap alat yang dimiliki untuk melawan film tersebut.

"Militer tidak akan membiarkan tentara IDF menjadi sasaran kebohongan dan fitnah darah," paparnya.

Militer Israel dilaporkan telah membuka penyelidikan kebocoran data dan meminta bantuan agen keamanan domestik Shin Bet. Jurnalis Channel 14 Yehuda Schlesinger bahkan mendesak agar para sutradara itu diburu ke mana pun mereka pergi dan dilarang pulang ke Israel. Di Ashdod, muncul mural yang disponsori oleh rapper sayap kanan Yoav Eliasi, yang menggambarkan Abraham dan Szor dengan tanda bidik, lambang swastika, dan tulisan "pengkhianat" di atasnya.

Menghadapi kampanye teror ini, Abraham menyatakan keputusasaannya di saluran televisi Channel 13.

"Tentu saja sulit, Israel adalah rumah saya, satu-satunya tempat saya ingin tinggal. Jadi tentu saja saya takut tidak akan bisa kembali," ungkapnya.

Banjir Dukungan Internasional

Sebagai informasi, nama "NAZA" diambil dari akronim dinas intelijen Israel yang digunakan untuk memprediksi berapa banyak warga sipil yang akan tewas dalam sebuah serangan udara. Sebelum NAZA, Szor dan Abraham juga memenangkan Oscar untuk film dokumenter No Other Land yang menyoroti perlawanan Palestina di Tepi Barat.

Menyusul teror yang terjadi, 43 organisasi hak asasi manusia lokal (termasuk Peace Now dan B'Tselem) mengecam respons pemerintah Israel yang dianggap meniru gaya rezim diktator. Mereka bersama 1.500 pembuat film Israel menandatangani petisi yang membela kebebasan berekspresi. LSM-LSM tersebut kini mendesak penyelidikan menyeluruh atas tingginya angka korban sipil di Gaza dan menuntut akses masuk bagi jurnalis asing.

Sutradara pemenang Oscar Laura Poitras turut mengecam tindakan rezim Netanyahu sebagai "ancaman bagi jurnalis di seluruh dunia". Beruntungnya, pada Rabu malam, majalah +972 mempublikasikan video yang memperlihatkan seseorang mengecat ulang mural kebencian di Ashdod dan mengganti kata pengkhianat menjadi "pahlawan".

Lebih lanjut, sumber kementerian luar negeri Israel justru menilai bahwa ancaman pemerintah ini pada akhirnya menjadi bumerang yang mendongkrak popularitas film dokumenter tersebut.

"Fakta bahwa pemerintah merespons justru menarik perhatian dan berita utama," ucapnya.

The Guardian, yang turut memproduksi film berdasarkan hasil jurnalisme investigasi dan sumber rahasia selama tiga tahun tersebut, berjanji akan melawan segala upaya penyensoran.

"Yuval Abraham dan Rachel Szor adalah jurnalis dan pembuat film yang berani," pungkasnya.


(tps/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rencana Damai Trump Ditolak, Israel Tetap Bertahan di Gaza