Terungkap! MAB Indonesia Beberkan Kendala Pengembangan EV di RI
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO PT Mobil Anak Bangsa Indonesia, Kelik Irwantono mengungkap bahwa penguatan rantai pasok menjadi langkah penting dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia. Terlebih Indonesia masih mengimpor bahan baku baterai untuk kebutuhan EV nasional.
"Jadi memang kalau baterai, ya kita mau nggak mau masih impor. Ini fakta yang ada di lapangan," ungkap dia dalam Coffee Morning "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift" yang diselenggarakan CNBC Indonesia bersama DBS Indonesia, Rabu (16/9/2026).
Untuk itu pihaknya tengah fokus pada peningkatan rantai pasok EV. Menurut dia langkah ini dapat dilakukan secara perlahan.
"Ini yang menjadi concern kita sebagaimana kita ke depan ini, kita harapkan bahwa kita bisa step-by-step meningkatkan apa yang rantai pasok. Ini menjadi kuncinya bahwa EV ini ke depan Indonesia bisa produksi sendiri," ujar Kelik.
Apalagi lanjut Kelik, besi baja sebagai salah satu komponen utama EV masih terkendala untuk dikembangkan di dalam negeri.
"Jadi kalau saya, kita kan beli sasis, kalau kita bicara sasis, itu baja. Kalau kita import atau kita ambil baja di Indonesia pun jadi minimal," kata dia.
Selain itu adalah baterai yang terbuat dari lithium. Menurut dia bahan ini tak terdapat di Indonesia.
"Kita berharap nantinya ke depan baterai ini diproduksi di lokal. Karena semangat kita sama, sebagai pemain lokal adalah bahwa kita mau meningkatkan terus baterai," tutur dia.
Kelik menegaskan yang paling utama dalam memperkuat rantai pasok ekosistem EV adalah regulasi dari pemerintah. Pemerintah dapat melakukan pembatasan bagi negara-negara yang menjadi Indonesia sebagai market.
"Ini fakta di lapangan, bahwa Indonesia jangan dijadikan pasar. Tapi siapa pun bersaing sehat di Indonesia, cuma kita berharap EV ini diproduksi di Indonesia," pungkas dia.
(dpu/dpu)