Bos MIND ID Ungkap Lima Tantangan Besar Sektor Tambang

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 15/09/2026 17:10 WIB
Foto: Direktur Utama Mind ID, Maroef Sjamsoeddin saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (13/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Holding Industri Pertambangan yakni MIND ID melihat pengelolaan sumber daya mineral dan batu bara ke depan akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Namun demikian, sektor ini juga masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan guna memastikan kekayaan sumber daya alam Indonesia memberikan nilai tambah yang optimal bagi negara dan masyarakat.


Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan, tantangan tersebut perlu diantisipasi melalui strategi pengelolaan sumber daya yang lebih terintegrasi, inovatif, dan berkelanjutan.

"MIND ID melihat bahwa pengelolaan sumber daya mineral dan batu bara ke depan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Namun, juga memiliki peluang pengembangan untuk memastikan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi negara dan masyarakat," kata Maroef saat RDP bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9/2026).

Maroef memaparkan setidaknya terdapat lima isu utama yang menjadi perhatian MIND ID dalam pengembangan sektor pertambangan ke depan.

Pertama, keberlanjutan cadangan dan tantangan operasional. Dalam pengelolaan komoditas utama, MIND ID menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari keberlanjutan cadangan, volatilitas harga komoditas, hingga penerapan kewajiban DMO yang belum konsisten.

Selain itu, peningkatan biaya operasi, persoalan pembebasan serta tumpang tindih lahan, aktivitas penambangan ilegal, hingga kebutuhan sumber energi yang andal dan kompetitif turut menjadi tantangan yang harus diselesaikan.

Kedua, pengelolaan sisa hasil pertambangan atau SHP tidak semata sebagai persoalan lingkungan namun juga sebagai potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui teknologi dan ekonomi sirkular.

Ketiga, optimalisasi nilai tambah di sektor batu bara. Adapun untuk komoditas batu bara, Indonesia masih memiliki sumber daya yang besar yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.

"Tantangannya adalah sumber daya yang masih besar dapat memberikan nilai tambah yang lebih tinggi, termasuk mengelola batubara kalori rendah dan sisa hasil pengolahannya," katanya.

Keempat, Indonesia perlu mendorong pemanfaatan mineral strategis untuk memperkuat industri nasional. Hilirisasi ke depan tidak cukup berhenti pada produk antara atau midstream, tetapi perlu diarahkan menuju material dan produk bernilai tambah yang lebih tinggi yang dibutuhkan industri nasional dan global.

Kelima, seluruh pengembangan tersebut harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, kepentingan masyarakat, tata kelola yang baik, dan keberlanjutan.

Oleh karena itu bagi MIND ID, agenda besarnya adalah membangun rantai nilai mineral dan batu bara nasional yang semakin terintegrasi dari hulu ke hilir.

"Untuk mewujudkannya diperlukan sinergi antar BUMN, pemerintah, badan legislatif DPR, dunia usaha, serta lembaga penelitian agar kekayaan alam mineral dan batubara Indonesia benar-benar akan menjadi fondasi industrialisasi, ketahanan ekonomi, dan penciptaan nilai tambah nasional," katanya.


(ven/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Video: MINDialogue: Dorong Daya Saing Mineral Untuk Stabilitas Ekonomi