Arab Saudi Temukan "Harta Karun" di Madinah, 110 Juta Ton- Rp1.760 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi telah menemukan "harta karun" baru bumi di wilayah Madinah. Pengumuman diberikan resmi di Sidang Reguler ke-70 Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Senin.
Dilaporkan bahwa kerajaan menemukan sekitar 110 juta ton mineral tanah jarang dan bijih uranium di Jabal Sayid. Pengungkapan terjadi beberapa bulan setelah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi meresmikan kerja sama nuklir sipil dengan penandatanganan kesepakatan pada 22 Juli.
Washington dan Riyadh sendiri sudah memperdalam kerja sama sejak November 2025, untuk mineral penting dan rantai pasokan. Termasuk melalui kemitraan antara perusahaan pertambangan milik negara Saudi, Maaden dan perusahaan AS, MP Materials.
Perjalanan tersebut menghasilkan Kerangka Kerja Strategis untuk Kerja Sama dalam bidang mineral, logam, dan uranium penting. Departemen Pertahanan AS setuju untuk membiayai 49% pabrik pemrosesan logam tanah jarang yang baru di Kerajaan tersebut, dengan Ma'aden memegang 51% saham pengendali bersama dengan MP Materials, yang saat ini menjalankan satu-satunya tambang dan pabrik pemrosesan logam tanah jarang di AS.
"Eksplorasi dan studi geologi pada proyek Jabal Sayid di Madinah telah mengungkapkan perkiraan sumber daya sekitar 110 juta ton bijih dengan konsentrasi mineral tanah jarang yang tinggi, terutama unsur-unsur berat, di samping konsentrasi uranium yang menjanjikan," kata kata Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman, dikutip dari Arab News, Selasa (15/9/2026).
Jabal Sayid terletak sekitar 350 km timur laut Jeddah. Wlayah ini dikenal memiliki salah satu deposit tanah jarang yang paling berharga di dunia.
Menurut analisis yang dilakukan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) yang mengutip perkiraan yang diberikan oleh Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi dan data perusahaan pertambangan negara Maaden, situs tersebut menyimpan logam tanah jarang terbesar keempat dunia. Wilayah ini menampung sekitar 552.000 ton logam tanah jarang berat seperti disprosium dan terbium serta 355.000 ton tanah jarang ringan termasuk neodymium dan praseodymium.
Analisis yang sama menunjukkan bahwa sumber daya uranium yang ditempatkan di lokasi yang sama berjumlah sekitar 31.000 ton. Ini searah dengan keinginan kerajaan untuk mengembangkan siklus bahan bakar nuklirnya sendiri sambil berpotensi mengekspor bahan bakar ke AS.
Sementara itu, Saudi Press Agency melaporkan bahwa nilai penemuan unsur tanah jarang di Arab Saudi mencapai US$100 miliar (Rp1.760 triliun). Studi Survei Geologi Saudi telah mengidentifikasi dua area eksplorasi tahap lanjut dengan perkiraan sumber daya sebesar 644 juta ton.
(sef/sef)