Negara Dihantam Krisis BBM, Warga Ngamuk-Demo di Seluruh Negeri
Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) pada akhir pekan telah menyulut gelombang protes besar-besaran di seluruh penjuru Suriah. Aksi unjuk rasa ini menjadi demonstrasi paling luas sejak tumbangnya rezim Bashar al-Assad hampir dua tahun lalu.
Mengutip Reuters, Selasa (15/9/2026), para demonstran nekat membakar ban dan memblokir jalan-jalan utama, termasuk jalan tol yang menghubungkan ibu kota Damaskus ke pusat industri Aleppo, setelah pemerintah Suriah pada hari Sabtu menaikkan harga solar sebesar 40% menjadi 175 pound Suriah (Rp 23.232) per liter.
Lonjakan harga gila-gilaan ini kian mencekik warga Suriah yang telah dihantam krisis ekonomi selama bertahun-tahun. Program Pembangunan PBB memperkirakan 90% warga Suriah kini hidup di bawah garis kemiskinan, melonjak tajam dibandingkan sepertiga populasi sebelum perang saudara pecah pada 2011.
Dalam gelombang kenaikan harga paling curam sejak dimulainya perang Iran ini, pemerintah juga mengerek harga gas rumah tangga dan industri sekitar 9%, bensin oktan 95 naik 28% menjadi 195 pound, dan bensin oktan 90 naik 26% menjadi 185 pound.
Massa yang marah turut memblokir konvoi kapal tanker minyak mentah yang menuju kilang di Suriah tengah. Beberapa demonstran menuntut pemecatan menteri energi, menteri ekonomi, hingga kepala Perusahaan Minyak Suriah.
"Kami tidak ingin upah yang lebih tinggi. Yang kami inginkan hanyalah harga solar dan bahan bakar lainnya yang lebih rendah," tutur warga Aleppo, Yasser Salim.
Kekecewaan serupa juga dilontarkan oleh Bassam al-Ali, yang memprotes langsung kepada Presiden Ahmed al-Sharaa karena situasi yang tak lagi tertahankan.
"Penyeberangan perbatasan menghasilkan jutaan dolar. Kami tidak butuh bundaran atau mal baru. Kami hanya ingin hidup," tegasnya.
Juru Bicara Kementerian Energi, Abdulhamid Salat, pada hari Minggu berdalih bahwa kenaikan ini adalah tindakan sementara akibat tingginya biaya pengadaan global dan ketergantungan berat Suriah pada impor. Kebijakan ini dapat direvisi naik atau turun seiring dengan perubahan kondisi.
"Harga tidak hanya mencerminkan biaya minyak mentah tetapi juga kelangkaan produk olahan, serta biaya penyulingan, transportasi, dan pasokan yang lebih tinggi," paparnya.
Sebagai informasi, Suriah sangat bergantung pada minyak mentah Rusia dengan impor sekitar 60.000 barel per hari (bpd) tahun ini, meski Damaskus menyatakan bersedia memangkas tajam pembelian tersebut.
Nahasnya, pasokan ini makin tertekan karena serangan Ukraina terhadap kilang Rusia telah memangkas produksi, yang memaksa Moskow membatasi ekspor bensin dan solar. Krisis rantai pasok ini makin diperparah oleh penutupan kilang Baniyas, fasilitas penyulingan terbesar di Suriah, selama tiga bulan untuk operasi perawatan komprehensif pertamanya.
Dengan kebijakan baru ini, harga bensin oktan 95 tercatat telah meroket sekitar 86% sejak Februari, sementara harga solar naik lebih dari dua kali lipat. Di pasar global, acuan minyak mentah Brent melonjak sekitar 44%, dari US$72,48 menjadi US$104,61 per barel. Imbas kenaikan ini langsung terasa ke level akar rumput, sebagaimana dikeluhkan oleh Imad Abu Ras, seorang sopir taksi berusia 44 tahun yang penumpangnya mulai menolak membayar tarif lebih tinggi.
"Sekarang sayuran dan semua hal lain akan naik seiring dengan harga bahan bakar. Apa solusinya? Mencuri? Kami tidak bisa mencuri," pungkasnya.
(tps/luc)