MARKET DATA

El Nino Sangat Kuat-Pulau Jawa Memerah, BMKG Kasih Peringatan Terbaru

Redaksi,  CNBC Indonesia
14 September 2026 12:50
Anomali Suhu Muka Laut Dasarian I September 2026. (Dok: Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 yang dirilis BMKG pada 14 Septembr 2026)
Foto: Anomali Suhu Muka Laut Dasarian I September 2026. (Dok: Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 yang dirilis BMKG pada 14 Septembr 2026)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, El Nino yang sedang terjadi saat ini dalam intensitas sangat kuat. Hal itu terungkap dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026, yang dirilis BMKG pada 14 September 2026.

Dijabarkan, hasil monitoring pada Dasarian I September 2026 menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) sebesar +0,394, naik dari IOD Agustus yang juga positif 0,376.

Sementara, nilai anomali suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature Anomaly/ SSTA) di region Nino 3.4 secara dasarian (ENSO bulanan) adalah sebesar +2,76, naik dari Agustus yang +2,83). Indeks ENSO (rata-rata 3 bulanan) untuk Juli-Agustus-September adalah sebesar 2,6.

Sebagai informasi, IOD dan ENSO adalah 2 indeks yang menunjukkan kondisi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik (ENSO) dan di Samudra Hindia (IOD) yang memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.

ENSO sendiri memiliki 3 fase utama, yaitu hangat (El Nino), Netral, dan dingin (La Nina). Begitu juga dengan fase IOD. El Nino dapat memicu kondisi cuaca panas dan kekeringan di Indonesia. Begitu juga IOD positif dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.

Sebagai catatan, iklim atau cuaca di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh kedua fenomena anomali suhu tersebut. Tapi juga dibentuk oleh faktor-faktor lain.

"BMKG memprediksi El Nino 2026 akan bertahan hingga awal 2027. Dan, indeks IOD berpeluang berada pada fase Positif hingga awal tahun 2027," tulis BMKG.

Siaga 1 Petaka Kekeringan

BMKG pun mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis yang berlaku untuk Dasarian II September 2026, dengan klasifikasi:

  • Waspada

- beberapa kabupaten di Provinsi Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sumatra Selatan

  • Siaga

- beberapa kabupaten di Provinsi Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Sumatra Selatan

  • Awas

- beberapa kabupaten di Provinsi Bali, Banten, DKI Jakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Dan Sumatra Selatan; Seluruh Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Timur.

"Curah hujan pada Dasarian I September bervariasi dari kriteria Tinggi 0,60%, Menengah 6,77%, dan Rendah 92,62%. Sementara, sifat hujan pada I September bervariasi dari kriteria Jauh di Atas Normal 2,37%, Atas Normal 1,92%, Normal 2,85%, dan Bawah Normal 92,86%," tambah BMKG.

Hari Tanpa Hujan

BMKG mencatat, wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat pendek hingga Ekstrem panjang.

Dilaporkan, ada 384 titik yang mengalami hari tanpa hujan panjang, yaitu 21-30 hari berturut-turut.

Ada 872 lokasi yang mengalami hari tanpa hujan sangat panjang, 31-60 hari berturut-turut.

Dan, 1.637 titik yang mengalami hari tanpa hujan ekstrem panjang, lebih dari 60 hari secara berturut-turut.

Hari tanpa hujan terpanjang dilaporkan terjadi selam 131 hari berturut-turut oleh pos hujan BPP Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta.

Hampir Seluruh Wilayah RI Mengalami Musim Kemarau

BMKG mencatat, saat ini sebanyak 80,7% wilayah Indonesia (564 Zona Musim/ ZOM) mengalami Musim Kemarau.

Wilayah yang sedang mengalami musim kemarau adalah sebagian Aceh, sebagian besar Sumatra Utara, sebagian besar Sumatra Barat, sebagian besar Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Peringatan dini kekeringan meorologis. (Dok. Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 yang dirilis BMKG pada 14 Septembr 2026)Peringatan dini kekeringan meorologis. (Dok. Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 yang dirilis BMKG pada 14 Septembr 2026) Foto: Peringatan dini kekeringan meorologis. (Dok. Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 yang dirilis BMKG pada 14 Septembr 2026)

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BMKG Ungkap Wilayah RI Terancam Kekeringan Efek El Nino, Ini Daftarnya


Most Popular
Features