Beras Premium Langka, Begini Pengakuan Bos Ritel Modern
Jakarta, CNBC Indonesia - Stok beras premium di sejumlah ritel modern di Jakarta Pusat mulai langka. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di tiga ritel modern, yakni Alfamart, Indomaret, dan Hero, pilihan beras premium yang tersedia terlihat terbatas.
Di Alfamart, rak beras yang dipantau hanya menyediakan beras SPHP, sementara stok beras premium sudah tidak tersedia. Sementara di Indomaret, masih terdapat beberapa pilihan beras. Adapun di Hero, hanya tersisa beras premium Shirohana kemasan 5 kilogram (kg) seharga Rp175.000. Pegawai Hero menyebut stok beras premium lainnya sudah kosong.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengakui pasokan beras premium yang masuk ke ritel modern sangat minim. Menurutnya, persoalan utama bukan ketiadaan beras premium di pasar, melainkan harga beras premium dari produsen maupun distributor yang memang sudah berada di atas HET Rp14.900 per kg, sehingga tidak bisa terserap oleh ritel.
"Iya benar, untuk beras premium di ritel modern yang menerapkan harus jual sesuai HET senilai Rp14.900 per kg, barangnya sangat minim stoknya. Karena kiriman (barang yang harganya sesuai HET) dari pemasok sedikit sekali. Di luar pasar modern stoknya sangat banyak," kata Solihin kepada CNBC Indonesia saat dikonfirmasi, Jumat (11/9/2026).
"Beras premium banyak, tapi yang bisa menjual harga sesuai HET itu yang nggak ada," sambungnya.
Solihin menjelaskan, ritel modern diwajibkan menjual beras premium dengan harga maksimal Rp14.900 per kg. Sementara di pasar tradisional maupun tingkat grosir, beras premium masih banyak tersedia, tetapi harganya sudah berada di atas HET.
"Kalau di ritel modern kan jualnya harus HET, Rp14.900 (per kg). Jadi pertanyaannya apakah beras premium ada? Ada, banyak, tapi tidak di ritel modern, karena ritel modern diwajibkan menjual sesuai HET. Jadi kalau misalkan mau beli di pasar tradisional, misalkan di grosir, banyak. Ada beras premium cuma harganya di atas HET," jelas dia.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pemasok tidak tertarik memasukkan beras premium ke jaringan ritel modern. Sebab, harga pembelian dari distributor sudah lebih tinggi dibandingkan harga jual yang diperbolehkan pemerintah.
"Nggak, nggak ada yang mau masuk. Karena ritel modern harus beli lebih mahal daripada HET," ucapnya.
Ketika ditanya apakah harga dari distributor memang sudah berada di atas HET, Solihin membenarkannya. Kondisi ini membuat beras premium tidak bisa dijual di ritel modern meski barangnya tersedia di pasar.
"Iya, cuma karena ritel modern harus jual sesuai HET jadi nggak bisa jual, kan nggak bisa masuk. Masuk tapi nggak bisa jual," tegas Solihin.
Bulog Siap Pasok Beras Premium
Untuk mengatasi minimnya pasokan tersebut, Solihin mengatakan Perum Bulog akan segera mengeluarkan beras premium untuk disalurkan melalui ritel modern.
"Nanti insya Allah Bulog akan mengeluarkan beras premium. Ya, dalam waktu dekat," katanya.
Menurut Solihin, langkah tersebut merupakan arahan dari pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pangan. Ia mengatakan, pasokan beras premium Bulog ke ritel modern akan dilakukan sesegera mungkin.
"Perintahnya Pak Menko Pangan begitu. As soon as possible. Ya. Semakin cepat semakin baik kan," tutur dia.
Solihin menilai tambahan pasokan tersebut penting agar masyarakat tidak harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan beras premium di luar ritel modern.
"Kasihan masyarakatnya kan, membeli harga barang yang biasa premium harus keluar duit lebih banyak lagi daripada itu, ya," ucapnya.
Kapan Balik Normal?
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan, kelangkaan beras premium di ritel modern berkaitan dengan kenaikan biaya produksi di tingkat produsen.
Menurutnya, ketika harga jual beras premium dikunci melalui HET, sementara biaya produksi meningkat, produsen memiliki insentif untuk menghentikan produksi beras premium atau beralih ke jenis beras lain.
"Karena biaya produksi di produsen naik, tapi harga dikunci dengan HET, sehingga produsen beras premium berhenti produksi atau beralih ke beras khusus," terang Budihardjo, dihubungi terpisah.
Budihardjo mengatakan kondisi tersebut membuat beras khusus kini lebih banyak tersedia di ritel modern, terutama untuk konsumen kelas menengah dan menengah atas.
"Karena suplai beras premium berkurang drastis, sehingga yang tersedia hanya beras khusus, terutama di ritel modern untuk kelas menengah dan menengah atas. Kalau untuk kelas menengah bawah dan bawah, beras SPHP yang kelas medium tersedia," ujarnya.
Ia pun belum dapat memastikan kapan persoalan pasokan beras premium tersebut dapat kembali normal.
"Belum terlihat kapan bisa solve karena ini masalah di sisi suplai," pungkas dia.
(dce)