Survei Presiden Ini Anjlok, Malah Janji Bagi Rp87,9 Juta ke Warga
Jakarta, CNBC lndonesia - Popularitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus tertekan menjelang pemilu sela November 2026, bahkan dukungan terhadapnya kini berada di level rendah secara nasional dan di negara bagian basis Partai Republik. Namun, Trump justru menjanjikan US$5.000 atau sekitar Rp87,9 juta per warga dewasa jika Partai Republik mempertahankan kendali Kongres.
Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump hanya 33%, sementara 63% responden tidak puas, menghasilkan net approval minus 30 poin persentase. Reuters mencatat angka tersebut menjadi salah satu titik terendah Trump menjelang pemilu sela, di tengah persoalan biaya hidup dan perang dengan Iran yang turut menekan popularitasnya.
Tekanan serupa terlihat di South Carolina, negara bagian yang secara tradisional menjadi basis kuat Partai Republik. Data Civiqs per 9 September menunjukkan hanya 42% warga menyetujui kinerja Trump, sedangkan 51% menyatakan tidak puas dan 7% netral, berbalik dari awal masa jabatan keduanya ketika tingkat dukungan masih berada di atas angka ketidakpuasan.
Di tengah penurunan tersebut, Trump melontarkan strategi politik yang tak biasa. Dalam konvensi Partai Republik di Dallas, Rabu (9/9/2026), ia mengatakan akan memberikan "dividen Trump" sebesar US$5.000 atau sekitar Rp87,9 juta kepada setiap warga dewasa AS jika Partai Republik menang dan mempertahankan kendali atas DPR serta Senat pada pemilu 3 November mendatang.
"Jika Partai Republik menang, Anda menang bersama kami dan Anda mendapatkan US$5.000," kata Trump di hadapan peserta konvensi. Ia menyebut pembayaran tersebut dimungkinkan karena "kekuatan dan keberhasilan kami yang luar biasa secara ekonomi", dengan satu syarat bahwa uang tersebut harus dibelanjakan di AS.
Janji itu langsung menimbulkan pertanyaan besar soal sumber pendanaan dan pelaksanaannya. Reuters memperkirakan program tersebut dapat menelan sekitar US$1,35 triliun atau hampir Rp23,8 kuadriliun, sementara rincian mekanisme pembayaran maupun dasar hukumnya belum dijelaskan Trump.
Besarnya janji tersebut juga muncul ketika Trump berusaha menjadikan pemilu sela sebagai referendum terhadap kepemimpinannya. Dalam pidatonya, ia bahkan meminta pemilih "berpura-pura bahwa saya ada di surat suara", meski tingkat persetujuannya sedang merosot dan sejumlah kandidat Partai Republik yang menghadapi persaingan ketat memilih tidak menghadiri konvensi tersebut.
Secara politik, langkah itu memperlihatkan taruhan besar Trump untuk membalikkan tren menjelang November. Ia bukan hanya berusaha mempertahankan citra sebagai motor utama Partai Republik, tetapi juga menawarkan insentif tunai langsung kepada pemilih ketika survei menunjukkan dukungan publik terhadapnya semakin anjlok.
(tfa/tfa)