Internasional

Perang Menggila-Minyak Bisa Kiamat: Usai Hormuz, Laut Ini dalam Bahaya

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 11/09/2026 07:00 WIB
Foto: Kelompok militan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menembaki instalasi minyak Saudi di dua pelabuhan di pantai Laut Merah pada hari Sabtu (25 Juli), dan pasukan yang didukung Saudi membombardir Houthi, seiring dengan meluasnya perang di Teluk yang telah mengganggu pasokan global ke front kedua. (Tangkapan Layar Reuters)

Jakarta, CNBC lndonesia - Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran memperluas kendali di pesisir Yaman dan mengancam jalur ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah. Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global setelah perang juga mengganggu Selat Hormuz.

Melansir Reuters, Jumat (11/9/2026), Houthi merebut kota pelabuhan Mocha pada Kamis dan bergerak menuju Kepulauan Hanish, menurut sumber militer pemerintah Yaman. Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg memperingatkan bahwa penguasaan Mocha memberi Houthi "kehadiran langsung di akses menuju salah satu selat paling vital di dunia".


Pergerakan tersebut memperkuat posisi Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk selatan Laut Merah yang menjadi salah satu jalur perdagangan paling strategis dunia. Jika kelompok itu mampu menguasai jalur tersebut, Iran berpotensi mendapatkan kartu tekanan tambahan terhadap Amerika Serikat sekaligus mengganggu koridor pasokan minyak utama lainnya.

Arab Saudi kini semakin bergantung pada Laut Merah setelah konflik dengan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Houthi bahkan menyatakan pelayaran di Laut Merah aman bagi semua perusahaan, kecuali kapal-kapal milik Arab Saudi.

Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak 4% hingga menembus US$105 atau sekitar Rp1,848 juta per barel, sementara harga rata-rata diesel nasional di Amerika Serikat menembus US$6 atau sekitar Rp105.600 per galon.

Sumber dari pemerintah Yaman, Iran, dan kawasan setempat mengatakan bahwa pergerakan Houthi di sepanjang pesisir pekan ini dilakukan dengan arahan langsung Korps Garda Revolusi Iran. Namun, juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam menegaskan operasi mereka bersifat defensif dan akan berhenti apabila serangan terhadap Yaman dihentikan.

Amerika Serikat menilai eskalasi ini tidak dapat diterima. Perwakilan AS Jenifer Neidhart de Ortiz menyebut Houthi sebagai "agen dan alat bagi Iran", sementara Grundberg menyerukan langkah internasional untuk menghadapi "fase baru yang lebih berbahaya" dalam perang Yaman.

Di tengah ancaman Laut Merah, upaya membuka kembali Selat Hormuz juga kembali terhambat. Data awal pelacakan kapal menunjukkan hanya tujuh kapal melintasi selat tersebut pada Rabu, sekitar separuh dari rata-rata 10 hari terakhir, sementara media pemerintah Iran melaporkan Garda Revolusi menyerang kapal nirawak AS di pintu masuk Hormuz.


(tfa/tfa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Houthi Tembakkan 2 Rudal Hipersonik ke Laut Merah