Petaka Hantam AS, Musim Panas 2026 Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) baru saja melewati musim panas terpanas sepanjang sejarah pencatatan. Kondisi ini menjadi sinyal peringatan bagi para ilmuwan mengenai dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Berdasarkan data Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), suhu rata-rata di wilayah daratan utama AS atau 48 negara bagian- tidak termasuk Alaska dan Hawaii- selama periode Juni hingga Agustus 2026 mencapai 74,4°F atau sekitar 23,6°C. Angka tersebut memecahkan rekor sebelumnya yang tercatat pada 1936 dan 2021, dengan selisih 0,4°F.
Rekor tersebut semakin mencolok karena empat dari lima musim panas terpanas dalam sejarah AS terjadi hanya dalam lima tahun terakhir. Musim panas 2022 dan 2024 masing-masing menempati peringkat keempat dan kelima terpanas.
Kondisi tersebut terjadi di tengah tren pemanasan global yang semakin kuat, yang menurut para ilmuwan berkaitan erat dengan aktivitas manusia, terutama emisi dari pembakaran bahan bakar fosil. Agustus 2026 juga mencatat rekor tersendiri.
Suhu rata-rata mencapai 75,6°F, menjadikannya Agustus terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1895. Sebelumnya, NOAA mencatat Juli 2026 sebagai bulan terpanas sepanjang sejarah pencatatan untuk wilayah 48 negara bagian AS.
"Hal ini terjadi persis seperti yang diprediksi oleh para ilmuwan beberapa dekade yang lalu," ujar Andrew Dessler, ilmuwan iklim dari Texas A&M University, kepada AFP, Kamis (10/9/2026).
Menurut Dessler, persoalannya kini bukan lagi apakah rekor suhu panas akan kembali terpecahkan, melainkan apakah pemerintah dan masyarakat akan mengambil tindakan untuk menghadapi perubahan iklim.
Mengalahkan Era Dust Bowl
Rekor panas 2026 bahkan melampaui kondisi ekstrem yang terjadi pada era Dust Bowl pada 1930-an, ketika kekeringan parah dan suhu ekstrem melanda wilayah Great Plains. Musim panas 1936 selama ini dikenal sebagai salah satu periode panas paling ekstrem dalam sejarah AS.
"Kita telah melampaui rekor musim panas saat kekeringan Dust Bowl tahun 1936, namun selisihnya sangat tipis; ibarat hasil akhir balapan yang sangat ketat," kata kepala bagian pemantauan di Pusat Informasi Lingkungan Nasional NOAA, Karin Gleason.
Namun, terdapat perbedaan karakter antara rekor 1936 dan 2026. Pada 1936, rekor terutama didorong oleh suhu siang hari yang sangat tinggi sementara pada 2026, suhu malam hari juga luar biasa hangat.
Pemanasan global membuat atmosfer mampu menahan lebih banyak kelembapan. Kondisi tersebut dapat menghambat pelepasan panas pada malam hari sehingga suhu tidak turun secara signifikan.
"Rekor musim panas ini tentu sejalan dengan apa yang kita perkirakan akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Seiring memanasnya AS dan planet ini secara keseluruhan, gelombang panas menjadi lebih sering terjadi dan lebih intens," ujar ilmuwan iklim Berkeley Earth, Zeke Hausfather.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tanda bahaya karena suhu yang semakin panas dapat meningkatkan tekanan terhadap tubuh akibat panas, permintaan listrik untuk pendingin ruangan, serta beban terhadap infrastruktur dan sistem kesehatan masyarakat.
Kekeringan Makin Meluas
Masalah AS tidak hanya berasal dari suhu ekstrem. Curah hujan selama musim panas juga berada di bawah rata-rata.
Sekitar 59,1% wilayah 48 negara bagian AS berada dalam kondisi kekeringan per 1 September. Angka ini naik lebih dari 10 poin persentase dibanding awal Agustus.
Secara keseluruhan, curah hujan selama Juni hingga Agustus berada di sepertiga terbawah dalam catatan sejarah. Pada Agustus saja, curah hujan rata-rata AS mencapai 2,30 inci, atau 0,32 inci di bawah rata-rata abad ke-20.
Kondisi tersebut menjadikan Agustus 2026 sebagai salah satu Agustus terkering dalam catatan, sekaligus yang terkering sejak 2000. Kekeringan meluas di sejumlah wilayah, terutama bagian barat AS, Great Basin, Pegunungan Rocky, Northern Plains, Midwest bagian atas hingga wilayah selatan.
Dampaknya juga terlihat pada sumber daya air. Permukaan air Danau Mead, salah satu waduk terbesar di AS, turun ke tingkat yang sangat rendah.
Namun, kondisi cuaca ekstrem tidak terjadi secara seragam. Sejumlah wilayah justru mengalami hujan ekstrem dan banjir. Indiana dan Ohio, misalnya, mencatat curah hujan Agustus tertinggi sepanjang sejarah pencatatan negara bagian tersebut.
Sementara itu, Hawaii mengalami kondisi yang berbeda. Badai Lala membawa hujan deras dan membantu menjadikan Agustus 2026 sebagai Agustus terbasah kedua dalam catatan Hawaii.
Ancaman Belum Berakhir
Kondisi panas ekstrem juga belum sepenuhnya berakhir. NOAA memperkirakan sejumlah wilayah AS masih berpeluang mengalami suhu di atas rata-rata sepanjang September, terutama bagian Southwest, Pegunungan Rocky, Great Lakes, Gulf Coast dan Southeast.
Fenomena iklim global juga menjadi perhatian karena pola El Niño diperkirakan menguat dan dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia. Para ilmuwan menilai kombinasi perubahan iklim jangka panjang dengan fenomena iklim alami seperti El Niño berpotensi membuat rekor suhu kembali pecah.
Namun, Michael Mann, ahli klimatologi dari University of Pennsylvania, mengatakan kondisi tersebut masih dapat dikendalikan.
"Sisi positifnya adalah kita bisa mencegah situasi ini menjadi lebih buruk," kata Mann.
Menurutnya, konsensus ilmiah menunjukkan bahwa pemanasan permukaan bumi pada akhirnya dapat dihentikan ketika emisi karbon mencapai titik nol. Teknologi energi bersih untuk mencapai tujuan tersebut juga sudah tersedia.
"Ini hanyalah masalah menemukan kemauan politik," ujarnya.
(sef/sef)