Harga Kedelai Impor Naik, Begini Nasib Harga Tahu-Tempe di Pasaran

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 10/09/2026 18:50 WIB
Foto: Penjualan tahu dan tempe di Pasar Minggu, Jakarta. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kedelai yang menjadi bahan baku utama tahu dan tempe tengah mengalami kenaikan. Namun, kenaikan harga tersebut belum membuat perajin tahu dan tempe menaikkan harga jual produknya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Wibowo Nurcahyo mengatakan, harga jual tahu dan tempe hingga saat ini masih bertahan, atau belum mengalami kenaikan.

"Harga jual tempe tahu kami masih tetap," kata Wibowo kepada CNBC Indonesia, Kamis (10/9/2026).


Di sisi lain, harga yang harus dibayar perajin untuk mendapatkan kedelai berbeda-beda di setiap daerah. Berdasarkan data Gakoptindo per 10 September 2026, harga kedelai di sejumlah wilayah Jawa masih berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp12.000 per kg.

Di Jawa Barat, harga kedelai di tingkat perajin berada di kisaran Rp11.200-Rp11.750 per kg. Di Jawa Tengah sekitar Rp11.300-Rp11.750 per kg, Jawa Timur Rp11.250-Rp11.550 per kg, sedangkan DKI Jakarta Rp11.400-Rp11.850 per kg.

Namun, harga lebih tinggi tercatat di sejumlah wilayah luar Jawa. Di Aceh, misalnya, harga kedelai merek Bola yang dibayar perajin mencapai Rp13.200 per kg. Sementara di Sumatra Utara harga kedelai merek Bola mencapai Rp12.800 per kg dan merek MB Rp12.950 per kg. Di Sumatra Barat, harga kedelai merek Bola mencapai Rp12.950 per kg.

Harga kedelai juga tembus Rp12.900 per kg di Kalimantan Timur untuk merek Bola, sedangkan di Sulawesi Selatan harga kedelai merek Bola Merah mencapai Rp12.950 per kg.

Secara nasional, rata-rata harga kedelai impor per 8 September 2026 mencapai Rp13.762 per kg, atau lebih tinggi Rp1.762 per kg dari HAP Rp12.000 per kg.

Harga di Tingkat Importir Naik

Adapun kenaikan harga tersebut, kata Wibowo, terjadi di tingkat importir. Data harga delivery order (DO) importir yang dikelola Gakoptindo per 9 September 2026, menunjukkan sejumlah harga mengalami kenaikan dibandingkan 2 September 2026.

Harga kedelai merek Bola Merah di Cigading, misalnya, naik dari Rp10.600 per kg menjadi Rp10.700 per kg. Harga kedelai merek Hiu di Cigading juga naik dari Rp10.600 per kg menjadi Rp10.700 per kg.

Sementara harga kedelai merek 3 Berlian dan Tugu Monas di Cikarang naik dari Rp10.600 per kg menjadi Rp10.900 per kg.

Wibowo mengatakan, kenaikan tersebut memang terjadi dalam beberapa hari terakhir di tingkat importir. Yang menjadi persoalan, kenaikan harga kedelai di dalam negeri itu terjadi ketika harga komoditas tersebut di pasar global justru tengah turun.

"Memang beberapa hari ini ada kenaikan ya di tingkat importir. Padahal, dolar (Amerika Serikat) kan sedang tidak menyentuh Rp18.000 ya, harga di CBOT (Chicago Board of Trade) juga turun," sebutnya.

Pekerja membuat tahu berbahan kedelai impor di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Pekerja membuat tahu berbahan kedelai impor di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Gakoptindo Ungkap Penyebabnya

Menurut Wibowo, kondisi tersebut berkaitan dengan belum adanya penguasaan stok kedelai oleh pemerintah. Akibatnya, pemerintah tidak memiliki barang yang dapat digunakan untuk mengendalikan harga ketika terjadi kenaikan di pasar.

"Karena kita nggak menguasai pasar. Pemerintah tidak punya barang," ujar dia.

Ia pun membenarkan bahwa kondisi tersebut membuat harga kedelai pada akhirnya ditentukan oleh pihak yang menguasai barang, yakni importir.

"Iya betul sekali. Itu jawabannya," tutur Wibowo.

Meski demikian, Wibowo menyebut stok kedelai saat ini masih tersedia berdasarkan informasi yang diterima Gakoptindo dari para importir.

"Ya intinya kan karena kita nggak kuasai barang, tergantung siapa yang punya barang mengatakan. Yang punya barang mengatakan 'oh stok ada', ya berarti pemerintah merasa ini aman-aman saja. Tapi ketika suatu saat dikatakan tidak ada, ya baru ramai kan, biasanya begitu situasinya," terangnya.

Karena itu, Gakoptindo mendorong pemerintah merealisasikan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk kedelai. Wibowo mengatakan, ketentuan mengenai CPP kedelai sebenarnya sudah ada, tetapi belum terealisasi.

"Iya itu kan sudah ditentukan. Sudah ada ketetapannya itu, CPP. Tapi sampai saat ini kan belum ada realisasinya. Ya kita sih mendorong itu. Tapi sampai saat ini belum ada," ujar dia.

Dengan harga bahan baku yang masih mengalami tekanan, perajin tahu dan tempe sejauh ini memilih tidak menaikkan harga jual produknya. Di sisi lain, Gakoptindo mendorong pemerintah segera memiliki cadangan kedelai agar harga dan pasokan tidak sepenuhnya bergantung pada importir.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Daging Ayam Meroket Efek MBG, Emak-emak Menjerit