Bukan Rp 14.000, Segini Tarif Asli MRT Jakarta Lebak Bulus-Bundaran HI

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 10/09/2026 12:15 WIB
Foto: Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tarif perjalanan MRT Jakarta yang dibayarkan penumpang saat ini disebut belum mencerminkan nilai ekonomi sebenarnya dari layanan sebuah transportasi massal. Nilai ekonomi satu perjalanan MRT Jakarta misalnya dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI bahkan disebut bisa mencapai hampir Rp44.000.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan tarif yang dibayarkan masyarakat saat ini jauh lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi yang dihasilkan dari penggunaan MRT.

"Jadi kalau misalnya dari Bundaran HI itu kan tarifnya Rp14.000, economic value-nya itu hampir Rp44.000," kata Samuel dalam Fellowship MRT di Jakarta, Rabu (9/9/2026).


Dia pun menjelaskan selisih tersebut menggambarkan besarnya manfaat ekonomi yang dihasilkan transportasi publik. Manfaat tersebut tidak hanya berasal dari perjalanan penumpang, tetapi juga dari penghematan waktu, biaya, hingga aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar jaringan transportasi.

Dengan tarif Rp14.000 dan nilai ekonomi hampir Rp44.000, terdapat selisih sekitar Rp30.000 untuk setiap perjalanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa manfaat MRT bagi masyarakat jauh lebih besar dibandingkan harga tiket yang dibayarkan.

Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Samuel menjelaskan, transportasi publik tidak seharusnya hanya dilihat dari pendapatan tiket. Keberadaan MRT juga mendorong aktivitas ekonomi di kawasan yang dilaluinya, terutama melalui pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).

"Karena sebenarnya kalau kita ngomongin transportasi publik itu jangan hanya ngomongin tarif, tapi economic value yang dihasilkan," ujarnya.

Menurut Samuel, manfaat tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengembangan transportasi massal perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang. Infrastruktur transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas kawasan sekaligus mendorong kegiatan bisnis dan properti di sekitarnya.

Ia menilai semakin terintegrasinya transportasi publik dengan kawasan komersial dan permukiman, semakin besar pula nilai ekonomi yang dapat tercipta. Karena itu, MRT Jakarta terus mengembangkan model bisnis di luar pendapatan tiket.

"Jadi memang kalau kita bicara bisnis MRT, transport itu sebenarnya supporting business, core business-nya adalah property," kata Samuel.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bayar Tiket MRT Kini Sudah Bisa Dengan Kartu Kredit Nirsentuh