Sampah Plastik Bisa Jadi BBM Terbarukan, Bahkan Lebih Bagus Solar
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengidentifikasi potensi pengolahan sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) terbarukan dengan spesifikasi kualitas yang bisa melampaui angka cetane (Cetane Number/CN) 51 atau setara dengan Dexlite.
Pengolahan sampah jadi BBM itu sendiri sudah tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 109 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Pengolahannya mulai dari menyortir sampah plastik untuk bisa diolah menjadi solar maupun bensin melalui sistem pirolisis.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebutkan pihaknya saat ini tengah mengidentifikasi spesifikasi BBM terbarukan berbasis sampah plastik di berbagai lokasi.
"Nah saat ini sedang kami identifikasi yaitu tugasnya di kami di EBTKE mengidentifikasi spesifikasinya karena di beberapa lokasi speknya berbeda. Nah apakah lebih dari CN51? Ini ada yang tempat yang menyebutnya bagus sekali kami berada di atas CN51 tapi ada juga yang kurang," ujar Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Rabu (9/9/2026).
Pemerintah juga tengah menata perizinan bagi pelaku usaha yang ingin mengolah sampah plastik menjadi BBM terbarukan melalui Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 38211.
"Nah ini sedang kita tata izinnya cuma satu di KBLI 38211 dan sudah kita sudah melakukan penetapan regulasinya jadi cukup izin nanti kita verifikasi lalu kita berikan izin dan bisa B2B jadi bisa menjual bahan bakar minyak terbarukan ini secara komersial," paparnya.
Di samping itu, Kementerian ESDM juga mendorong pemanfaatan produk sampah lainnya seperti biogas menjadi biometana untuk dikomersialkan untuk menekan emisi karbon.
"Lalu tentang produk sampah lainnya tentang biogas ini bahan bakar juga yang saat ini mungkin trending ya biogas menjadi biometana karena pengurangan emisi yang sangat signifikan mendapatkan harga karbon yang lebih banyak biometana ini mulai ingin dikomersialisasikan izinnya sudah ada dari kementerian ESDM sejak 2024 akhir cukup hanya izin produksi saja nanti bisa B2B," tandasnya.
(pgr/pgr)