Internasional

Ada Apa AS-Kanada? Kronologi "Perang" hingga Bombardier Jadi Korban

tfa, CNBC Indonesia
Rabu, 09/09/2026 15:40 WIB
Foto: Pesawat jet pribadi Bombardier (Dok. Bombardier)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Kanada kini berada pada titik panas. Kedua negara kini terlibat "perang" yang pada akhirnya menyebabkan bombardier menjadi korban.

Apa yang Sebenarnya Terjadi? Bagaimana Kronologinya?

Semuanya berawal dari tarif Presiden AS Donald Trump tahun lalu. Salah satu tindakan pertama yang diambil Trump pada masa jabatan keduanya di bidang perdagangan adalah mengenakan tarif tinggi pada produk-produk Kanada.


Beberapa bulan kemudian, Trump mengumumkan penerapan tarif global yang luas terhadap impor dari hampir semua negara. Dia mengatakan negara-negara bisa keluar dari kebijakan ini dengan menegosiasikan perjanjian perdagangan dengan AS.

Mahkamah Agung (MA) AS pada akhirnya menghapus sebagian besar tarif tersebut, namun Trump mencoba menerapkannya kembali berdasarkan undang-undang yang jarang dan jarang digunakan. Beberapa tarif yang paling berdampak pada Kanada, seperti pungutan atas aluminium dan baja, tidak terpengaruh oleh keputusan MA.

Sejumlah negara melakukan kesepakatan yang terburu-buru dengan Trump untuk menghindari tarif terburuk AS. Namun Kanada membalas dengan hati-hati.

Ini membuat amarah Trump juga meningkat. Dia mengancam akan mengenakan tarif 50% dan 100% pada produk-produk Kanada dan memblokir pembukaan jembatan baru antara Detroit dan Windsor, Ontario.

Sebenarnya, AS dan Kanada terus melanjutkan perundingan berulang kali. Tapi, pembicaraan tersebut gagal pada menit-menit terakhir akhir Agustus kemarin.

Pada akhirnya, tarif Trump sebesar 50% terhadap barang-barang Kanada senilai US$20 miliar juga berlaku. Kanada pun akhirnya mengatakan pihaknya akan menyesuaikan tarif tersebut dolar demi dolar.

Trump mengklaim bahwa Kanada melakukan diskriminasi yang tidak adil terhadap produk-produk AS. Namun, para ekonom mengatakan hanya ada sedikit bukti mengenai hal tersebut.

Balasan "Dollar for Dollar"

Kanada di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Mark Carney, kemudian membalas dengan mengenakan tarif terhadap ratusan produk AS. Kanada menyatakan bahwa tarif yang mereka terapkan setara dengan kebijakan Washington, baik dari segi nilai dolar maupun besaran tarifnya.

Negara itu menyebut aturan ini sebagai "dollar for dollar". Kebijakan ini mulai berlaku pada Selasa pukul 00.01 dini hari.

Nilai barang AS yang dikenai tarif sesuai dengan nilai barang Kanada yang dikenai tarif Trump. Nilainya sekitar US$20 miliar (Rp 354,1 triliun/kurs Rp17.706,09 per US$1) atau kira-kira 6% dari total ekspor AS ke Kanada tahun lalu yang bernilai US$333,6 miliar.

Tarif tersebut menyasar ratusan produk Amerika termasuk baja, aluminium, keju, peralatan rumah tangga, pakaian, kosmetik, dan peralatan pertanian. Besaran tarif yang diberlakukan beragam 15%, 25%, atau 50%.

Kanada juga telah mengambil langkah lain di luar penerapan tarif. Delapan dari 10 provinsinya membatasi atau melarang penjualan minuman beralkohol asal AS.

Asosiasi perdagangan industri minuman beralkohol sulingan, Distilled Spirits Council, melaporkan bahwa ekspor minuman keras AS ke Kanada merosot lebih dari 70% dari tahun ke tahun setelah pembatasan tersebut diberlakukan. Trump pun merespons lagi larangan itu.

Balasan Baru Trump: Bukan Tarif Baru Tapi...

Kemarin, Gedung Putih merespons kembali. Namun, alih-alih tarif, AS mengumumkan larangan total terhadap sejumlah produk Kanada.

Minuman beralkohol, produk susu, dan sepeda motor asal Kanada akan dibatasi aksesnya ke AS mulai berlaku pada 29 September nanti. Trump juga menginstruksikan General Services Administration (GSA) AS untuk menyatakan produk Kanada "tidak memenuhi syarat bagi kontrak federal berskala besar dan berjangka panjang" sampai Kanada mengizinkan apa yang ia sebut sebagai "timbal balik yang penuh dan adil bagi produk-produk Amerika".

Trump pun memperingatkan Carney. Bahwa ekonomi Kanada bisa runtuh jika ia terus memperlakukan Trump sebagai "musuh."

Danau Ontario Menjadi Danau Amerika

Trump bahkan mengganti nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika", meski diabaikan dan ditertawakan di Kanada. Meski begitu, Google dan Apple akhirnya tunduk pada tekanan Trump dan mengubah tampilan peta mereka bagi pengguna di AS, sesuai kemauan sang presiden

"Setelah mengganti nama teluk dan danau, mungkin langkah selanjutnya bagi dia adalah mengganti nama sungai?" ujar Daniel Béland, seorang pakar ilmu politik di Universitas McGill.

Perlu diketahui, sebelumnya Trump kerap mengatakan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS. Warga Kanada sendiri telah mengurangi perjalanan ke Amerika secara drastis dan memboikot produk-produk AS.

"Ini tentang memastikan tidak ada negara yang bisa menyandera kita. Dan bahwa kita bisa menjalani hidup sesuai keinginan kita," ujarnya.

Bombardier Terseret

Produsen pesawat asal Kanada, Bombardier, pun kini terseret dalam "perang" keduanya. Trump mengancam menghentikan penjualan pesawat perusahaan tersebut di AS.

Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan tak akan ada lagi penjualan Bombardier di AS jika perusahaan tidak memproduksi pesawatnya di Amerika. "TIDAK ADA LAGI PENJUALAN BOMBARDIER DI AMERIKA SERIKAT! Produk mereka tidak cukup bagus!" tulis Trump, beberapa jam sebelum tarif Kanada terhadap barang-barang AS senilai US$20 miliar mulai berlaku.

Ancaman tersebut langsung menekan saham Bombardier yang turun sekitar 3% kemarin. Namun, analis mempertanyakan apakah Trump memiliki kewenangan hukum untuk benar-benar memblokir penjualan pesawat Bombardier di AS, sekaligus memperingatkan bahwa kebijakan itu justru dapat merugikan pembeli dan pemasok domestik.

"Pasar jet bisnis tetap sangat ketat secara historis, dan larangan terhadap produk Bombardier akan sangat mengganggu pelanggan AS," kata analis Stifel dalam laporannya, seperti dikutip CBS News, menilai pembeli jet pribadi di AS saat ini bahkan harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan pesawat.

Bombardier merupakan salah satu dari tiga produsen jet bisnis terbesar di dunia dan mengkhususkan diri pada pesawat berukuran menengah hingga besar. Meski merupakan perusahaan Kanada, produksi dan perakitannya tersebar di Kanada, AS, dan Meksiko, sementara pelanggan Bombardier juga mencakup individu kaya, perusahaan, pemerintah, hingga militer.

AS pun menjadi bagian penting dari operasi Bombardier. Perusahaan mengatakan memiliki pekerja di 20 negara bagian AS, mengoperasikan fasilitas di sejumlah wilayah, serta menggandeng sekitar 2.800 perusahaan pemasok di 47 negara bagian.

"Bombardier menghargai kemitraan yang erat dengan perusahaan-perusahaan Amerika dan para karyawannya di AS," kata perusahaan tersebut.

Hubungan bisnis keduanya juga bernilai besar. Bombardier mengungkapkan membelanjakan lebih dari US$2,5 miliar atau sekitar Rp44 triliun setiap tahun kepada pemasok AS.

Jet Challenger miliknya bahkan menggunakan mesin buatan Honeywell di Phoenix, Arizona. Sementara sayap dan sejumlah komponen pesawat juga diproduksi di fasilitas Bombardier di AS.

Tekanan politik dari ancaman Trump turut memicu reaksi di AS. Termasuk dari senator Partai Republik asal Kansas yang membela keberadaan Bombardier di negara bagian tersebut.

Serikat pekerja manufaktur penerbangan, IAM, menolak ancaman pelarangan penjualan dan memperingatkan bahwa kebijakan semacam itu dapat mengganggu lapangan kerja serta industri kedirgantaraan di AS dan Kanada.

Menurut Stifel, Bombardier memperoleh lebih dari 50% komponen pesawatnya dari produsen AS sehingga eskalasi perang dagang justru berpotensi memukul rantai pasok kedua negara.


(tfa/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: AS-Kanada Memanas, Trump Sebut Kanada Manfaatkan AS