Bisnis Hotel Anyer Terdampak Letusan Krakatau, Begini Cerita Pengusaha

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 08/09/2026 17:30 WIB
Foto: Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau di wilayah Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9). (Dok. BPBD Kabupaten Serang)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian masyarakat, terutama di kawasan pesisir Banten dan Lampung. Kegiatan booking penginapan turun sampai 30% akibat banyak pembatalan.

Namun, pelaku usaha hotel di Pantai Carita, Anyer, Pandeglang, Banten melihat kondisi saat ini belum sebanding dengan dampak yang terjadi setelah peristiwa tsunami pada 2018.

Pengelola Hotel Lippo Carita Erwin Surya Winata mengatakan masyarakat sekitar memang memiliki pengalaman traumatis dari kejadian sebelumnya. Kondisi tersebut membuat setiap peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau lebih mudah memicu kekhawatiran wisatawan.


"Kalau tahun-tahun sebelumnya yang kejadian itu parah, hampir tiga tahun pulihnya. Soalnya dari longsoran Gunung Krakatau menimbulkan tsunami, kemudian disusul sama banjir sama gempa," kata Erwin kepada CNBC Indonesia, Selasa (8/9/26).

Peristiwa kala itu meninggalkan dampak panjang bagi aktivitas pariwisata di kawasan sekitar. Masa pemulihan juga berlangsung bersamaan dengan pandemi, sehingga pelaku usaha harus menghadapi tekanan yang berlapis.

Kondisi aktivitas gunung saat ini dinilai berbeda karena karakter erupsinya tidak sama dengan kejadian besar sebelumnya. Perbedaan tersebut turut memengaruhi cara pelaku usaha melihat prospek pemulihan pariwisata.

"Kalau ini sih erupsinya pembentukan gunung. Jadi mudah-mudahan nggak terlalu parah dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa," ujarnya.

Meski demikian, masyarakat tetap merasakan adanya perubahan aktivitas gunung. Getaran yang dirasakan kali ini disebut lebih kuat dibandingkan aktivitas pada tahun-tahun sebelumnya.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan bentuk Gunung Anak Krakatau setelah longsoran besar yang terjadi pada 2018. Kondisi fisik gunung membuat aktivitas yang terjadi sekarang dirasakan berbeda oleh masyarakat sekitar.

"Kalau buat getaran, kemarin memang lebih kencang. Soalnya gunungnya itu bekas 2018, mulai datar, bekas longsoran itu. Makanya getarannya cukup lumayan. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, getarannya sedikit karena gunungnya itu benar-benar gunung," kata Erwin.

Pengalaman masa lalu membuat kewaspadaan masyarakat tetap tinggi meskipun kondisi saat ini belum menunjukkan dampak sebesar sebelumnya. Pelaku usaha berharap aktivitas gunung segera kembali tenang sehingga kegiatan wisata dapat berjalan normal.

"Masyarakat di sini memang was-was, cuma semoga saja seperti yang dulu-dulu, cuma erupsi doang. Kalau ini mudah-mudahan tidak sampai parah dan aktivitas tetap bisa berjalan," pungkas Erwin.


(hoi/hoi)
Saksikan video di bawah ini:

Video: 5 Gunung Api Siaga, Ada Apa Dengan Indonesia?