AS Terpukul Iran, Diam-Diam Siapkan Tarik Pasukan dari Timteng
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Amerika Serikat (AS) diam-diam mulai membahas rencana memangkas jumlah pasukan dan fasilitas militernya di Timur Tengah secara besar-besaran. Langkah ini disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan Presiden Donald Trump mengakhiri perang dengan Iran sekaligus merespons kerentanan pangkalan AS yang terekspos selama konflik.
Mengutip CNN International, Rabu (9/9/2026), wacana penarikan pasukan mencuat setelah pertempuran dengan Iran menunjukkan betapa rentannya infrastruktur militer AS di kawasan. Sejumlah pangkalan menjadi sasaran serangan udara Iran, sementara perang tersebut sedikitnya telah menewaskan 18 anggota militer AS.
Saat ini AS masih menempatkan sekitar 50.000 personel, dua kapal induk, dan belasan kapal perusak berpeluru kendali di Timur Tengah. Namun, Pentagon mulai mengevaluasi opsi untuk meningkatkan perlindungan pasukan yang tersisa, termasuk memindahkan sejumlah fasilitas ke lokasi bawah tanah guna mengurangi risiko serangan rudal dan drone.
"Kerentanannya selalu diketahui, tetapi AS tidak pernah menindaklanjutinya dengan urgensi," kata salah satu sumber pejabat AS. Evaluasi itu juga dipengaruhi ketidakpastian mengenai strategi Trump setelah perang, terlebih sang presiden selama ini dikenal memiliki kecenderungan untuk mengurangi keterlibatan militer AS di luar negeri.
Dampak serangan Iran juga disebut telah menghantam sejumlah aset penting AS di kawasan. Pos terdepan CIA di Riyadh, Arab Saudi, dilaporkan mengalami kerusakan berat, sementara instalasi militer AS di Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait turut menjadi sasaran drone serta rudal Iran.
Dalam kondisi tersebut, Komando Operasi Khusus AS dan CIA mulai mempertimbangkan apakah misi intelijen sensitif dapat dilakukan tanpa mengandalkan pangkalan permanen. Salah satu opsi yang dibahas adalah menerbangkan personel langsung dari AS untuk menjalankan misi tertentu, lalu menarik mereka kembali setelah operasi selesai.
AS juga menghadapi persoalan biaya besar untuk membangun kembali fasilitas yang rusak atau hancur. Pengawas Keuangan Pentagon Jules "Jay" Hurst III mengatakan belum ada angka final mengenai total kerusakan, termasuk apakah seluruh fasilitas akan dibangun kembali.
"Kami tidak memiliki angka akhir untuk kerusakan pada instalasi kami di luar negeri, dan itu bergantung pada bagaimana kami memutuskan untuk membangunnya kembali, atau apakah kami (benar-benar) melakukannya," ujarnya.
Untuk jangka panjang, Pentagon disebut ingin semakin mengandalkan mitra regional untuk menanggung beban pertahanan kawasan. Sementara itu, ancaman Iran masih membayangi pangkalan dan pasukan AS di negara-negara sekitar, setelah serangan terhadap fasilitas AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA).
Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Daryl Caudle bahkan memastikan armada AS belum akan kembali ke Bahrain, markas tradisional Armada ke-5.
"Kami tidak akan kembali ke sana dalam waktu dekat. Saya hanya ingin benar-benar jujur dengan hal itu," tegasnya.