Internasional

Pabrik Mobil Raksasa Otomotif Eropa Disulap Jadi Pabrik Senjata Israel

tps, CNBC Indonesia
Selasa, 08/09/2026 19:10 WIB
Foto: REUTERS/Fabian Bimmer

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa otomotif Volkswagen (VW) secara mengejutkan akan mengubah pabrik mobilnya di barat laut Jerman menjadi fasilitas produksi pertahanan militer. Langkah drastis ini sejalan dengan ekonomi terbesar Eropa tersebut yang tengah agresif menggenjot pengeluaran militer di tengah dorongan persenjataan kembali di seluruh benua.

Mengutip CNN, Selasa (8/9/2026), VW telah sepakat untuk menjual pabrik mobil Osnabrück kepada Negara Bagian Lower Saxony dan Aurelius Capital, sebuah firma investasi yang berkantor pusat di Tel Aviv. Pemerintah daerah dan Aurelius, yang akan menjadi pemilik mayoritas, berencana untuk bekerja sama dengan Rafael Advanced Defense Systems, yakni salah satu perusahaan utama di balik pembuatan sistem pencegat rudal Iron Dome milik Israel.

"Rencana ini melibatkan potensi pembuatan sistem dan komponen untuk sistem pertahanan udara untuk Jerman dan Eropa. (Kerja sama ini dimaksudkan untuk) membuka jalan bagi kemitraan dan proyek lebih lanjut," papar perwakilan Volkswagen dalam pernyataan resminya.


Kesepakatan ini sekaligus menjadi penyelamat krusial bagi nasib para pekerja. Produksi kendaraan di pabrik tersebut sebelumnya telah dijadwalkan berakhir pada musim panas 2027 berdasarkan keputusan tahun 2024 lalu.

Menurut dewan pekerja VW, perkembangan terbaru ini diperkirakan dapat menyelamatkan sekitar 1.400 dari total 1.800 pekerjaan di pabrik tersebut, serta menawarkan cetak biru bagi pabrik Volkswagen lainnya yang terancam ditutup.

"Dengan kesepakatan hari ini, kami mengambil langkah penting menuju pembukaan masa depan industri baru untuk situs tersebut," ungkap CEO Volkswagen Oliver Blume.

Pengumuman ini muncul hanya beberapa hari setelah VW meluncurkan restrukturisasi paling masif dalam sejarah 89 tahun grup tersebut. Produsen mobil itu memperingatkan bahwa empat pabrik Jerman mungkin terpaksa ditutup pada tahun 2030-an akibat lemahnya permintaan, meroketnya biaya operasional, dan persaingan ketat dari pembuat kendaraan listrik (EV) asal China.

Melalui "Future Plan 2030", rentang model mobil akan dipangkas setengahnya dan perusahaan akan mem-PHK sekitar 50.000 pekerjaan, sebagai tambahan dari pemotongan 50.000 tenaga kerja yang sudah diumumkan sebelumnya.

Menteri-Presiden Negara Bagian Lower Saxony, Olaf Lies, menyambut sangat positif transformasi strategis ini.

"Dengan perjanjian ini, kami membuka peluang industri yang nyata untuk Osnabrück. Situs ini membanggakan tenaga kerja yang sangat terampil... Pada saat yang sama, telah terjadi perubahan mendasar dalam situasi keamanan dan kebutuhan kita akan perlindungan. Jerman dan Eropa harus memperkuat kemampuan mereka dan menjadi lebih mandiri," tegasnya.

Di saat yang sama, Eropa kini memang tengah berlomba untuk mempersenjatai diri, dengan Jerman bertindak sebagai ujung tombak. Anggaran kementerian pertahanan negara itu ditetapkan melonjak sepertiga pada tahun depan menjadi 109,7 miliar euro atau sekitar US$ 127 miliar (Rp 2.247,9 triliun), dari 82,7 miliar euro atau US$ 96 miliar (Rp 1.699,2 triliun) pada tahun ini.

Tren alih fungsi ini juga diikuti oleh Rheinmetall, grup pertahanan terbesar di Eropa, yang turut mengubah pabrik kendaraan menjadi fasilitas pembuat peralatan militer demi mendongkrak sektor manufaktur Jerman yang sedang terpuruk. Adapun transaksi penjualan aset pabrik VW ini masih tunduk pada persetujuan peraturan dan kesepakatan akhir mengenai struktur organisasi yang baru.


(tps/luc)
Saksikan video di bawah ini:

VIdeo: Serangan Israel Tewaskan 12 Orang di Lebanon