MARKET DATA

Anak Krakatau Erupsi, Penerbangan Kacau! Ekonomi RI Bisa Susut 0,003%

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
07 September 2026 17:55
A drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG)/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS
Foto: via REUTERS/PVMBG

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah ekonom tanah air memperkirakan kecilnya dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang terjadi sejak 5 September 2026. Meskipun, abu vulkaniknya mengganggu aktivitas penerbanganm dengan ditutupnya 8 bandara dan 1.558 penerbangan ditunda.

Kepala Pusat Riset Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman mengatakan, dampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pun minim dari kejadian erupsi Anak Krakatau itu. Ia memanfaatkan perhitungan model Computable General Equilibrium (CGE).

"Dampaknya ke ekonomi tentu ada, tetapi belum tentu sampai menekan pertumbuhan kuartal III secara besar," kata Rizal kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).

Menurut Rizal, penutupan delapan bandara dan tertundanya 1.558 penerbangan memang mengganggu perjalanan dan aktivitas usaha. Namun, perjalanan yang tertunda belum tentu batal, karena masih bisa dijadwal ulang atau dialihkan sebelum akhir September, sebagian aktivitas ekonominya tetap berjalan dalam kuartal yang sama.

Dari perhitungan menggunakan model CGE, ia mengatakan, jika gangguan berlangsung sepekan dan separuh aktivitas yang terdampak bisa pulih sebelum akhir September, pertumbuhan ekonomi tertekan hanya sekitar 0,003 poin persentase.

Sebagai gambaran, pertumbuhan yang tanpa gangguan sebesar 5%, akan menjadi sekitar 4,997%. Bila gangguan berlangsung sampai tiga pekan dan pemulihannya hanya 20%, tekanannya menurut Rizal bisa naik menjadi sekitar 0,015 poin persentase.

"Jadi, dalam skenario ini, pengaruhnya terhadap pertumbuhan nasional masih relatif kecil," ujar Rizal.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal juga memiliki pandangan serupa. Menurutnya, cakupan dampak ekonomi dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau akan terkonsentrasi pada sektor transportasi dalam jangka pendek. Namun, jika berlangsung lama, bisa merambat ke sektor logistik.

Khusus untuk dampak ke sektor transportasi, ia mengakui, tentu akan memberi dampak terhadap sektor yang berkaitan seperti pariwisata, mulai dari perhotelan maupun restoran dan kafe.

Tapi, menurutnya, dampaknya pun akan terbatas pada wilayah yang terdampak saja, dan bisa terkompensasi pada wilayah lain yang tidak terdampak pada paparan abu vulkanik.

"Jadi ini artinya masalah pergeseran distribusi lalu lintas orang dan barang saja sebetulnya, sehingga kalau dilihat dampaknya secara agregat tidak terlalu signifikan ya menurut saya ya, karena bukan berarti hilang sama sekali mobilitasnya tapi beralih tempat, beralih rute," papar Faisal.

Dengan catatan itu, ia mengatakan setidaknya ada tiga alasan dampak abu vulkanik erupsi Anak Krakatau tidak akan mempengaruhi secara signifikan laju pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, yang menurutnya masih akan mampu tumbuh di kisaran 5%.

Pertama, sektor transportasi dan pariwisata yang terdampak tidak terjadi secara luas, artinya masih ada aktivitas sektor usaha yang diuntungkan karena pengalihan dari wilayah terdampak yang dirugikan.

Kedua, periode dampak bencana tidak terjadi dalam waktu panjang, karena aktivitas erupsi diperkirakan hanya berlangsung beberapa hari, sehingga dampaknya minimal. Sebagaimana diketahui BNPB per hari ini menyebut erupsi Anak Krakatau sudah mereda.

Ketiga, sektor yang terdampak ia sebut tidak memiliki kontribusi yang signifikan ke PDB. Bila merujuk data BPS, pada kuartal II-2026 distribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap PDB sekitar 6,16% dan akomodasi serta makan minum 2,77%. Terbesar ialah industri pengolahan 18,50%, pertanian 13,57%, dan perdagangan 13,02%.

"Sehingga tidak terlalu banyak pengaruhnya menurut saya. Jadi untuk kuartal III tidak terlelau banyak terpengaruh peristiwa ini dan kita perkirakan tetap di kisaran 5%," ucap Faisal.

Potensi Pemburukan

Meski efeknya terbilang kecil, Rizal dan Faisal menganggap dampaknya bisa saja cukup signifikan menekan ekonomi bila erupsi yang terjadi berlangsung dalam periode yang panjang hingga banyak wisatawan yang membatalkan perjalanan dan memperlambat aktivitas logistik.

Bagi Rizal, kuncinya ada pada berapa lama gangguan berlangsung dan seberapa cepat kegiatan masyarakat serta dunia usaha kembali berjalan.

"Yang perlu kita cermati, apakah gangguan ini hanya membuat perjalanan mundur atau sampai membuat wisatawan membatalkan kunjungan, barang penting terlambat tiba, dan produksi ikut tersendat. Kalau sudah merembet ke sana, dampaknya bisa lebih besar," ujar Rizal.

Sementara itu, Faisal mengatakan, bila gangguan arus barang terjadi dalam jangka waktu yang lama, erupsi Anak Krakatau punya cukup dampak secara tidak langsung yang besar, karena ketika pengiriman barang terganggu berarti ada sektor-sektor tertentu yang kena dampak, terutama yang terkait ritel dan bahan baku dan penolong untuk industri yang sifatnya bergantung pada supply daerah lain.

"Itu kemungkinan ada keterlambatan dalam pengiriman, sehingga pengaruhi aktivitas sejumlah bisnis tertentu, itu tambahan dari dampak yang kemungkinan dirasakan, ada beberapa sektor juga yang mengandalkan atau bergantung pada kelancaran logistik," tegas Faisal.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya Pede Dampak Erupsi Anak Krakatau ke Ekonomi Minim-APBN Aman


Most Popular
Features