MARKET DATA

Waspada! Zulhas Bilang Kondisi Paceklik, Sawah Tak Lagi Berproduksi

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
07 September 2026 14:35
Konferensi pers terkait Pengelolaan dan Penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Tahun 2026 di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)
Foto: Konferensi pers terkait Pengelolaan dan Penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Tahun 2026 di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui harga beras di pasar mulai mengalami kenaikan. Kondisi ini terjadi karena pasokan beras dari petani menipis seiring masuknya musim kemarau kering.

Zulhas mengatakan, kondisi tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Pada 2025, Indonesia mengalami kemarau basah sehingga hujan masih turun hingga akhir tahun dan petani tetap bisa menanam padi. Sementara tahun ini, kondisi lebih kering sehingga produksi petani ikut terganggu.

"Tapi tahun ini kering, hampir tidak ada lagi sawah atau petani yang berproduksi. Kita sebut paceklik atau gadu, sehingga tidak ada produksi," kata Zulhas dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Menipisnya pasokan tersebut kemudian mulai mendorong harga beras di pasar. Zulhas menyebut kenaikannya saat ini sudah mencapai sekitar Rp100-Rp200

"Oleh karena itu, karena supply menipis dan tidak ada produksi, pasti harganya naik. Ada kenaikan Rp100-Rp200," ujarnya.

Untuk meredam kenaikan harga, pemerintah memutuskan menambah pasokan beras subsidi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton.

Tambahan tersebut diberikan setelah alokasi SPHP sebelumnya sebesar 828 ribu ton hampir habis. Dari alokasi itu, stok yang tersisa sekitar 80 ribu ton.

"Kita tambah lagi 1 juta ton SPHP medium. Jadi beras subsidi yang dijual di pasar kira-kira harganya Rp12.000 (per kg), paling mahal Rp12.500 per kg," ucap dia.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal mengatakan, tambahan 1 juta ton tersebut lebih besar dari usulan awal Bulog. Semula, Bulog mengajukan tambahan 400 ribu ton untuk mengantisipasi kebutuhan beras hingga akhir tahun.

"Untuk beras SPHP, kami mengajukan penambahan awalnya 400 ribu ton untuk mengantisipasi kondisi ke depan. Sebab, stok beras SPHP yang sekarang ada di gudang-gudang Bulog tinggal sekitar 100 ribu ton untuk menghadapi September, Oktober, November, dan Desember," ujar Rizal, ditemui usai konferensi pers.

Namun, pemerintah akhirnya menyetujui tambahan hingga 1 juta ton. Rizal mengatakan, pasokan tersebut juga menjadi mitigasi karena panen berikutnya diperkirakan baru berlangsung pada Maret 2027.

"Jadi, kebutuhan kami sebenarnya untuk September, Oktober, November, Desember. Tapi dari arahan Pak Menko dan Pak Mentan, pada Januari dan Februari kan belum ada panen. Panen nanti di bulan Maret. Oleh karena itu, usulan kami yang awalnya 400 ribu ton dilipatgandakan menjadi 1 juta ton," jelasnya.

Rizal memastikan tambahan SPHP akan disebar melalui berbagai jalur distribusi, mulai dari Rumah Pangan Kita (RPK) hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

"Ke semua, pokoknya 10 saluran, sampai ke RPK dan KDKMP masuk itu semua," sebut dia.

Selain beras, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah lain untuk menjaga pasokan pangan selama periode kering, termasuk menyalurkan 150 ribu ton jagung SPHP kepada peternak kecil dan menengah, serta mengolah beras Bulog yang turun mutu menjadi bahan baku tepung.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pengumuman! Mulai 20 Oktober Tak Ada Lagi Beras SPHP, Ini Gantinya


Most Popular
Features