Trump Mau Lumpuhkan Pusat Minyak Iran, 3 Kapal Tanker Langsung Dibom
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara yang menghantam tiga kapal tanker minyak milik Iran pada Sabtu (5/9) waktu setempat. Salah satu titik serangan dilaporkan terjadi di perairan dekat Pulau Kharg, yang selama ini menjadi jantung terminal ekspor minyak mentah Iran.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command / Centcom) menyatakan bahwa serangan telak ini merupakan aksi balasan setelah Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps / IRGC) Iran terlebih dahulu menembakkan rudal balistik ke arah dua kapal perang Angkatan Laut AS.
"Biarlah pesan ini jelas bagi IRGC: Jika kalian menembak dua kapal kami, kami akan menimpakan biaya ekonomi yang jauh lebih tinggi-dengan melumpuhkan tiga kapal kalian," tegas Laksamana Muda Brad Cooper, Kepala Komando Pusat AS, dalam pernyataan resminya, dikutip dari Reuters, Minggu (6/9/2026).
Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa setidaknya empat rudal AS telah menghantam sebuah kapal tanker di area labuh jangkar Pulau Kharg. Mengutip sumber-sumber lokal, Tasnim memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, sementara proses evakuasi kru kapal langsung dilakukan secara darurat.
Pihak Centcom juga mengonfirmasi bahwa tidak ada personel militer AS yang menjadi korban luka maupun jiwa dalam pertempuran laut tersebut. Kendati demikian, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari otoritas tertinggi Iran menanggapi eskalasi ini.
Saling serang terbaru ini menandai babak baru yang semakin memperkeruh konflik berkepanjangan. Sejak AS melancarkan operasi militer ke Iran pada Februari lalu, disrupsi pasokan energi global kian tak terhindarkan. Situasi panas ini bahkan mulai memantik gelombang penolakan dari sebagian besar publik di AS menjelang pemilihan kongres pada November mendatang.
Ancaman Donald Trump dan Bayang-Bayang Krisis Energi
Awan hitam di atas Pulau Kharg sejatinya telah membayangi dalam sepekan terakhir. Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan provokasi keras lewat akun media sosialnya pada 31 Agustus lalu, dengan mengunggah sebuah video hasil kecerdasan buatan (AI-generated) yang menggambarkan Pulau Kharg hancur lebur "rata dengan tanah". Sontak, ancaman tersebut dibalas sumpah serapah oleh Teheran yang berjanji akan memberikan perlawanan habis-habisan jika pulau strategis itu disentuh.
Sebagai catatan, Iran merupakan produsen terbesar ketiga di dalam tubuh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sebelum perang meletus, sekitar 90% ekspor minyak mentah negeri para mullah itu disalurkan melalui fasilitas di Pulau Kharg.
Namun, keran pendapatan utama Iran tersebut praktis tersumbat total menyusul blokade maritim yang diberlakukan AS sejak pertengahan April lalu. Blokade ini sendiri dipicu oleh tindakan Iran yang menutup Selat Hormuz, sebuah chokepoint vital jalur perdagangan yang menyuplai seperlima kebutuhan minyak dunia.
Meski Trump sempat mengisyaratkan pelonggaran operasi militer pasca-penandatanganan perjanjian sementara antara Washington dan Teheran pada 17 Juni lalu, eskalasi terbaru ini menunjukkan bahwa bara konflik di Teluk Persia masih jauh dari kata padam.
Sentimen pasar global pun langsung merespons cepat. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi akibat perang yang terus meluas membuat harga minyak mentah Brent ditutup melonjak ke level tertulis tertingginya sejak 24 Juli, yakni bertengger di level US$96,28 per barel pada perdagangan akhir pekan lalu.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]