Ekuador Jadi Raja Udang Dunia, RI Hadapi Persaingan Sengit
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri udang Ekuador menjadi pelajaran penting bagi Indonesia bahwa komoditas lautpun bisa berkembang menjadi kekuatan utama ekonomi sebuah negara negara tersebut.
Industri udang Ekuador berkembang dengan mengandalkan teknologi, pembiakan udang tahan penyakit, kepadatan tambak yang lebih rendah, serta otomatisasi pakan dan sistem oksigenasi.
Teknologi ini membuat tingkat kelangsungan hidup udang di Ekuador mencapai sekitar 95%, jauh di atas rata-rata Asia.
Dalam satu dekade terakhir, ekspor udang Ekuador bahkan melonjak empat kali lipat dan pada 2025 mencapai lebih dari US$8 miliar atau Rp 141,04 triliun (US$1= Rp 17.630).
Ekuador juga menjadi eksportir udang terbesar di dunia sejak mengungguli India pada 2020, dengan Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa sebagai pasar utama.
Amerika Serikat Jadi Pasar Baru
Perubahan teknologi bukan satu-satunya faktor yang mendorong industri udang Ekuador. Perubahan perdagangan global juga membuka pasar baru, terutama di Amerika Serikat (AS).
Ekuador sebelumnya sudah menjadi pemasok udang terbesar ke Uni Eropa dan China, tetapi sulit menembus pasar Amerika Utara yang didominasi udang India. Situasi berubah setelah kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap India.
Tahun lalu, India menghadapi tarif hingga 50% setelah pemerintahan Donald Trump menekan negara tersebut terkait pembelian minyak Rusia. Dengan bea gabungan yang disebut hampir 60% untuk udang India, dibandingkan sekitar 10% untuk udang Ekuador, importir Amerika Serikat beralih ke produk dari Ekuador.
Ekspor udang Foto: Economist |
Hasilnya, konsumen Amerika kini mengonsumsi lebih banyak udang dari Ekuador dibandingkan dari negara lain. Ekuador bahkan mampu mempertahankan posisinya setelah tarif tersebut dilonggarkan pada awal tahun ini.
Produksi Melimpah Mulai Jadi Masalah
Pertumbuhan produksi Ekuador kini justru mulai menghadirkan persoalan baru. Sejak udang pulih dari wabah white spot, produksi udang negara tersebut meningkat sekitar 15% per tahun. Lonjakan pasokan kemudian menekan harga di pasar global.
Pada Mei, harga udang Ekuador di tingkat petambak berada di sekitar US$2,40 per kilogram, lebih rendah dibandingkan India sebesar US$2,99 dan China US$5,32.
Sejumlah negara juga mulai mengambil langkah untuk melindungi industri domestiknya. China secara berkala membatasi impor dengan alasan masalah kesehatan tanaman dan hewan, sementara Brasil menerapkan bea masuk yang tinggi. Meksiko juga menghadapi persoalan penyelundupan udang.
Perubahan iklim turut menambah kompleksitas industri. Fenomena El Niño yang meningkatkan suhu di kawasan pesisir Pasifik dapat mengganggu sejumlah komoditas pertanian, tetapi kondisi yang lebih hangat justru mendukung pertumbuhan udang.
Ekuador Mulai Memburu Konsumen Baru
Dengan pasokan yang terus meningkat, tantangan berikutnya bagi Ekuador bukan lagi sekadar memproduksi lebih banyak udang, tetapi mencari pembeli baru.
Negara-negara Balkan dan kawasan Teluk Persia mulai dilihat sebagai pasar potensial. Di Amerika Serikat, perusahaan juga mengembangkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi, seperti udang kupas dan udang berbalut tepung.
Restoran cepat saji mulai memasukkan udang ke dalam menu burger, sementara industri makanan mempromosikan berbagai hidangan berbahan udang seperti ceviche, tempura, dan risotto.
Bagi Ekuador, ekspansi produksi telah mengubah udang dari komoditas tambak menjadi salah satu sektor penting dalam perekonomian. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan pasokan tersebut tetap diimbangi dengan pertumbuhan permintaan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia juga menjadi salah satu negara yang memiliki industri udang berorientasi ekspor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor udang hasil tangkap Indonesia mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir, dengan lonjakan yang cukup tajam pada 2024 dan tetap berada di level tinggi pada 2025.
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor komoditas ini tercatat sebesar US$59,7 juta pada 2021, kemudian US$55,4 juta pada 2022 dan US$62,7 juta pada 2023.
Nilainya kemudian melonjak menjadi US$138,9 juta pada 2024, sebelum sedikit turun menjadi US$136,7 juta pada 2025 atau sekitar Rp 2,4 triliun.
Kemungkinan penurunan ini dikarenakan Indonesia menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari tarif impor AS dan isu keamanan pangan hingga persaingan dengan Ekuador.
Sebagai catatan, pada Agustus 2025, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mendeteksi Cesium-137 (Cs-137) dalam satu sampel udang beku asal Indonesia yang berasal dari PT Bahari Makmur Sejati. Meski demikian, produk tersebut dipastikan tidak sampai beredar di pasar konsumen AS.
Menyusul temuan tersebut, Amerika Serikat mulai memberlakukan sertifikasi khusus bagi udang asal Jawa dan Lampung sejak 31 Oktober 2025 untuk memastikan produk yang diekspor bebas dari kontaminasi Cs-137. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kemudian ditunjuk sebagai lembaga sertifikasi untuk memastikan setiap pengiriman udang ke AS memenuhi persyaratan keamanan tersebut.
(mae/mae)