BMKG Ungkap Wilayah RI Terancam Kekeringan Efek El Nino, Ini Daftarnya

Thea Arbar, CNBC Indonesia
Sabtu, 05/09/2026 16:15 WIB
Foto: (Instagram/atr.drone)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi ancaman kekeringan meteorologis pada awal September 2026. Sebanyak 567 Zona Musim (ZOM) atau 81,1% wilayah Indonesia tercatat masih mengalami musim kemarau.

Kondisi tersebut terjadi di tengah dinamika atmosfer yang menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Hasil monitoring Dasarian III Agustus 2026 mencatat indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juni-Juli-Agustus (JJA) sebesar 2,2, sementara nilai SSTA di wilayah Nino3.4 mencapai +2,74, turun dari +2,83 pada Agustus.

Selain El Nino, BMKG juga memantau perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD) yang turut menjadi bagian dari dinamika iklim Indonesia. Pada Dasarian III Agustus 2026, indeks IOD tercatat sebesar +0,290, turun dari +0,376 pada Agustus.


Seiring kondisi tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian I September 2026 dengan tiga tingkat kategori, yakni Waspada, Siaga, dan Awas. Berikut peringatan kekeringan meteorologis yang dirilis BMKG, berlaku untuk Dasarian I September 2026:

Waspada

Beberapa kabupaten di Sumatra bagian selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan bagian tengah hingga utara, serta Sulawesi bagian tengah.

Siaga

Beberapa kabupaten di Pulau Sumatra bagian selatan, sebagian kecil Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, sebagian besar Pulau Kalimantan, sebagian besar Pulau Sulawesi, serta sebagian besar Pulau Papua.

Awas

Beberapa kabupaten di sebagian Pulau Sumatra bagian selatan, sebagian besar wilayah Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, sebagian besar Pulau Kalimantan, serta sebagian Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku.

Meluasnya wilayah yang masih berada dalam musim kemarau juga tercermin dari kondisi hujan terbaru. Pada Dasarian III Agustus 2026, 92,80% wilayah Indonesia tercatat mengalami curah hujan kategori rendah, sementara curah hujan kategori menengah mencapai 6,99% dan kategori tinggi hanya 0,21%.

Prediksi Curah Hujan Kurang dari 50 mm/Bulan September 2026-Februari 2027

Kondisi kering tersebut diperkirakan masih berlangsung di sejumlah wilayah dalam beberapa bulan ke depan. Pada September hingga November 2026, BMKG memprakirakan masih terdapat daerah yang berpeluang tinggi mengalami curah hujan kurang dari 50 mm per bulan, meski cakupannya diperkirakan semakin menyempit.

September 2026

Curah hujan kurang dari 50 mm per bulan berpeluang tinggi terjadi di Bengkulu bagian selatan, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian besar Kalimantan Timur, Pulau Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya bagian barat dan selatan, sebagian Papua Barat, sebagian kecil Papua Tengah, sebagian kecil Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Oktober 2026

Memasuki Oktober, wilayah dengan peluang curah hujan kurang dari 50 mm per bulan meliputi Sumatra Selatan bagian selatan, Lampung, Pulau Jawa, Bali, NTB, sebagian besar NTT, Kalimantan Selatan bagian selatan, Sulawesi Tengah bagian timur, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku bagian selatan, dan Papua Selatan bagian selatan.

November 2026

Pada November, potensi tersebut semakin terbatas dan diperkirakan terjadi di sebagian Jawa Timur, khususnya Madura, NTB bagian timur, sebagian NTT, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, serta sebagian kecil Papua Selatan bagian selatan.

Desember 2026-Februari 2027

Sementara itu, untuk Desember 2026 hingga Februari 2027, BMKG menyatakan tidak ada wilayah dengan peluang tinggi mengalami curah hujan kurang dari 50 mm per bulan. Hal ini menunjukkan potensi kondisi hujan sangat rendah diperkirakan tidak lagi meluas hingga awal 2027.


(tfa/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BMKG: Fenomena El Nino di Indonesia Berlangsung hingga 2027