MARKET DATA

Tanpa Swasembada Pangan Harga Beras RI Bisa Tembus Rp20.000/Kg

Ferry Sandy,  CNBC Indonesia
04 September 2026 19:35
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan memberi pemaparan saat  Konferensi pers terkait RAPBN & Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Aula Cakti Buddhi Bakti, kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan, Juma
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengingatkan risiko yang bisa muncul jika Indonesia kembali bergantung pada impor beras. Menurutnya, harga beras di dalam negeri berpotensi melonjak hingga Rp20.000 per kilogram apabila produksi dalam negeri tidak diperkuat.

Zulhas mengatakan Indonesia sebelumnya masih sangat bergantung pada pasokan beras dari luar negeri. Pada 2024, sebelum pemerintah mencapai kondisi swasembada, impor beras Indonesia disebut hampir mencapai 4,52 juta ton.

"Kalau kita terus tidak mau tahu juga, nanti harga beras kita bisa sampai Rp 16.000, Rp 20.000. Sementara harga harga-harga gandum akan murah," ujar Zulhas dalam acara peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Zulhas kemudian menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia. Ia membandingkan konsumsi gandum nasional ketika dirinya pertama kali menjadi anggota DPR pada 2004 dengan kondisi saat ini. Pada saat itu, konsumsi gandum Indonesia masih berada di kisaran 3-4 juta ton. Namun kini jumlahnya telah meningkat menjadi sekitar 13 juta ton.

Salah satu faktor yang mendorong kenaikan konsumsi gandum adalah harga beras dalam negeri yang relatif mahal. Jika harga nasi semakin tinggi sementara produk berbahan gandum lebih murah, masyarakat secara perlahan dapat mengubah pilihan makanannya.

"Orang akan pindah makannya. Kenapa gandum naik 13 juta? Karena beras kita mahal, gandumnya murah, pindah. Dia enggak makan nasi goreng, makan roti, karena lebih murah, gitu. Nanti terus akan begitu. Kalau seperti itu, kita akan sangat tergantung, ya pasti enggak merdeka, enggak bisa begini," ujarnya.

Peringatan tersebut muncul di tengah persoalan biaya produksi pangan Indonesia yang juga masih relatif tinggi. Zulhas sebelumnya mengungkapkan biaya untuk menghasilkan 1 kg beras di Indonesia dapat mencapai Rp12.000. Sebagai perbandingan, biaya produksi beras di Vietnam dan Thailand disebut hanya sekitar Rp3.800/kg.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak semata-mata diukur dari ada atau tidaknya stok beras di dalam negeri. Kemampuan suatu negara memproduksi pangan sendiri dengan biaya yang efisien juga menjadi bagian penting dari kemandirian tersebut.

"Pangan itu akan mencerminkan keadaan suatu peradaban bangsa. Dia seperti apa itu bisa dilihat dari sini sebetulnya. Tidak ada negara yang maju tanpa swasembada," ujar Zulhas

Ketergantungan terhadap pangan dapat menjadi persoalan ketika Indonesia membutuhkan pasokan dari negara lain dalam kondisi sulit. Ia mengaku pernah mengalami sendiri situasi ketika menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Indonesia tengah membutuhkan beras dari luar negeri.

"Saya pernah jadi Menteri Perdagangan, waktu kita sulit itu saya bolak-balik India mau beli beras nggak dikasih, itu luar biasa," katanya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Malaysia Ngebet Mau Impor 500 Ribu Ton Beras RI, Tawar Harga Segini


Most Popular
Features