9 Photos
Potret 5.000 Tentara AS Mau "Party-Party" di Pattaya Usai Tugas Perang
Personel militer AS dari kapal Nimitz USS Abraham Lincoln akhirnya menginjak daratan setelah 200 hari berlayar, termasuk penugasan perang di Timur Tengah.
Personel militer AS dari kapal induk kelas Nimitz, USS Abraham Lincoln, beristirahat di Pattaya, Thailand, setelah penugasan panjang di Timur Tengah. Mereka berfoto bersama seekor burung hantu di Walking Street, Kamis (4/9/2026). (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Kapal perang itu bersandar di Pelabuhan Laem Chabang, Rabu. Hal ini dilakukan usai laporan mengenai kekhawatiran kesehatan mental tentara dan memburuknya kondisi di atas kapal. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Kapal induk ini membawa sekitar 5.000 pelaut dan personel marinir. USS Abraham Lincoln telah mencetak rekor modern untuk durasi pelayaran berturut-turut terlama selama 200 hari. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Biasanya, penugasan angkatan laut berlangsung antara enam hingga sembilan bulan, namun durasi tersebut dapat diperpanjang pada masa konflik. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Para tentara akan berada selama lima hari di Thailand untuk keperluan istirahat dan pemulihan. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Walking Street yang terkenal di Pattaya, merupakan sentra bisnis dan wisata. Diharapkan ekonomi Thailand akan terbantu dengan kedatangan para marinir. Diketahui, Walking Street terdiri dari bar, toko batu permata, hingga kios pakaian. Para pengusaha tampak antusias dan bersiap menyambut lonjakan pengunjung setelah masa-masa sepi, bahkan ada yang menawarkan promo khusus bagi personel tentara AS. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Dalam foto terlihat bagaimana marinir datang ke tempat hiburan malan di Pattaya. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
"Setiap tahun saat mereka datang, situasinya selalu bagus; kedatangan mereka selalu menggerakkan roda ekonomi," ujar Saroch (45), seorang pedagang makanan setempat, seraya menambahkan bahwa bar dan berbagai usaha lainnya akan diuntungkan oleh peningkatan belanja. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Sebelumnya kehadiran tentara AS, menimbulkan kontroversi, termasuk prostitusi ilegal di Thailand. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)