Dorong Pembangunan, Danantara Sorot Hutama Karya sebagai Benchmark
Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria mengungkap bahwa konsolidasi utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya saat ini sangat besar dan telah mencapai Rp 180 triliun. Dony bahkan menyebut ada BUMN Karya yang utangnya lebih besar dari nilai asetnya.
"Oleh karena itu, khusus karya-karya ini setelah lebih dari enam bulan sejak fokus dengan berbagai macam skenario. Saya harapkan itu bahwa akhir tahun ini akan bisa selesai karena skala persoalan yang dihadapi BUMN itu cukup masif dan satu-satu berbeda-beda persoalannya," ungkap Dony kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (3/9/2026).
Dony merinci, saat ini dari tujuh BUMN Karya, yang kondisinya benar-benar sehat hanya tiga perusahaan saja, yaitu Nindya Karya, Brantas Abipraya, dan Hutama Karya. Ketiga BUMN karya yang dalam kondisi sehat tersebut ujar Dony akan dijaga agar tidak mengalami masalah yang sama.
"Tetapi persoalan di dalam karya-karya kita ini sangat fundamental dan dalam yang membutuhkan waktu bagi kami untuk melakukan transformasi. Yang pertama adalah berkaitan dengan situasi keuangan mereka. Di luar dari tiga perusahaan ini mereka menghadapi problem financial yang cukup dalam," jelasDony.
Dony juga berharap, BUMN Karya ini ke depan bisa menjadi lokomotif pembangunan. Adapun BUMN Karya yang patut dijadikan benchmark adalah Hutama Karya, karena menurut Dony Hutama Karya tidak mengalami masalah finansial, apalagi tol yang mereka kelola cukup banyak. Sehingga Hutama Karya diharapkan bisa mengelola tol dan keuangannya dengan hati-hati.
"Karena tol ini kan tol-tol baru, umumnya ada tol di Sumatera. Nah ini yang saya harapkan kepada mereka untuk tol di jaga hati-hati sehingga nanti tidak masuk lagi ke dalam persoalan yang sama kedepannya. Walaupun ini sedang kami upayakan untuk melakukan perbaikan, tetapi sekali lagi, saya tidak mau melakukan perbaikan yang sifatnya itu temporary," tegas Dony.
Untuk diketahui, ada masanya BUMN Karya gencar melakukan ekspansi di berbagai sektor di luar konstruksi seperti fiber optik, air, properti, hotel, hingga jalan tol. Tren ekspansi tersebut akhirnya membuat perusahaan BUMN Karya tidak lagi fokus mengembangkan bisnis intinya.
Melihat hal itu, Danantara bakal membenahi proses konsolidasi dan transformasi BUMN Karya, sehingga mereka bisa kembali fokus menjalani bisnis kontraktor.
"BUMN karya ini dulu, mungkin karena cash-nya banyak. Mereka kemudian ada temptation untuk membangun bisnis-bisnis di luar daripada core-nya. Soalnya bisa bayangkan bahwa karya kita ini punya bisnis fiber optic, punya water, punya property, punya hotel, punya jalan tol, ada yang punya macam-macam bisnisnya yang lari daripada core-bisnis sebagai kontraktor. Ini satu-satu kita lakukan pembersihan pasca daripada konsolidasi karya ini, transformasi karya ini," ujar Dony.
Sejauh ini upaya transformasi BUMN Karya sendiri belum terealisasi sepenuhnya lantaran skala perbaikan yang dibutuhkan cukup besar.