Bauran Energi Terbarukan RI Baru Capai 17,3%, Terbesar dari Biodiesel

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Rabu, 02/09/2026 17:25 WIB
Foto: Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi saat menyampaikan pemaparan dalam Pembukaan The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Ditjen EBTKE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam negeri ditopang oleh sumber bioenergi, khususnya dari mandatori biodiesel sebagai campuran Bahan Bakar Minyak (BBM). Per Semester I-2026, bauran EBT dalam negeri baru mencapai angka 17,3% dari total pemanfaatan berbagai sumber energi primer di Tanah Air.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, capaian itu perlu didorong oleh akselerasi investasi. Hal itu lantaran pertumbuhan kapasitas terpasang saat ini masih tergolong landai dibandingkan target jangka panjang.

"Dan dalam hal ini kami dapat laporkan Bapak (Wamen ESDM) tentang capaian energi baru terbarukan yang saat ini ada itu kalau kita melihat dari capaian energi mix nasional itu baru mencapai 17,3% di semester ini," ungkapnya saat memberikan laporan di hadapan Wakil Menteri ESDM Yuliot dalam acara The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026, di JIExpo Kemayoran, Rabu (2/9/2026).


Rinciannya, porsi bauran EBT sebesar 17,3% tersebut terbagi menjadi dua sektor, yakni kelistrikan dan non-kelistrikan. Pada sektor non-kelistrikan, penggunaan FAME biodiesel mencatatkan porsi tertinggi sebesar 5,01%, disusul oleh biomassa sebesar 2,82%.

"Kalau kita perhatikan di sini ini yang paling besar adalah bio. Jadi sumber energi di Indonesia yang paling mempunyai share terbanyak adalah bioenergi," jelasnya.

Sementara itu, bauran dari sektor kelistrikan disumbang oleh pembangkit listrik bio sebesar 4,19% dan tenaga air (PLTA) 2,69%. Adapun panas bumi (PLTP) berkontribusi sebesar 1,84%, tenaga surya (PLTS) 0,51%, dan tenaga bayu atau angin (PLTB) masih berada di angka 0,06%.

"Nah pada kali yang pertama memang Pak Presiden meluncurkan di Juli B50. Ini salah satu upaya kita untuk menunjukkan bahwa kemandirian energi itu bisa disuplai dari kita sendiri. Dan target B50 ini ini bisa menyetop impor solar kita," tambahnya.

Saat ini, total kapasitas terpasang pembangkit EBT nasional telah menyentuh 16,32 Giga Watt (GW), naik secara bertahap dari posisi 12 GW pada tahun 2021. Pemerintah menargetkan bauran energi hijau dapat meningkat hingga 30% pada tahun 2034 guna mencapai kemandirian energi nasional.

"Investasi memang naik tetapi masih tergolong landai. Nah ini hal yang pasti kita perlu perhatikan sehingga bagaimana cara mencapai sesuai RENSTRA yang sudah dikeluarkan oleh Dewan Energi Nasional," tandasnya.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bahlil Ungkap Target Besar PLTS 100 GW di Era Prabowo