Trump Ngamuk! Deklarasikan Iran Sudah "Mati"
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kehebohan dengan mendeklarasikan bahwa Iran sudah "mati". Ia secara gamblang menyerukan agar para pemimpin negara tersebut diadili atas apa yang disebutnya sebagai kejahatan perang terhadap kemanusiaan.
Mengutip Al Jazeera, Selasa (1/9/2026), Trump juga berjanji pada Senin untuk merespons keras serangan mematikan Iran baru-baru ini terhadap pangkalan militer yang menampung pasukan AS di Yordania. Kemarahan presiden AS itu meledak saat perang AS-Israel melawan Iran telah memasuki bulan ketujuh di tengah bentrokan yang kembali pecah tanpa ada titik terang penyelesaian.
"Iran secara resmi adalah Negara Gagal. NEGARA ITU SUDAH MATI! Mereka tidak memiliki Angkatan Laut, mereka tidak memiliki Angkatan Udara, mereka tidak memiliki mata uang, mereka tidak membayar tentara atau polisi mereka, Inflasi berada di 300%, dan kepemimpinan mereka dalam kekacauan total dan tidak mampu mewakili negara dengan baik," tegasnya.
Trump tercatat telah berulang kali menyatakan sejak awal konflik bahwa sistem pemerintahan Iran sedang runtuh. Namun, rezim tersebut terbukti tetap berdiri kokoh tanpa ada pembelotan besar, di mana Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terus memelopori upaya pertahanan perang.
Bentrokan di kawasan tersebut kembali bergejolak pada hari Minggu setelah militer AS menyerang Pulau Larak, dengan dalih menargetkan peluncur roket IRGC yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz. Iran dengan cepat merespons dengan meluncurkan rudal balistik ke pangkalan AS di Yordania, yang menunjukkan kemampuan dan tekad Teheran untuk membalas saat diserang. Menanggapi eskalasi ini, Trump bersumpah pada hari Senin untuk membalas respons Iran tersebut, sebuah langkah yang berisiko memperpanjang bentrokan berdarah.
"Kami akan menghantam mereka dengan keras. Akan ada tanggapan," ucapnya kepada Fox News.
Gejolak ini merupakan babak pertempuran bersenjata pertama antara kedua negara sejak bulan Juli, di mana pemerintahan Trump sebelumnya sempat menyatakan beralih ke taktik tekanan ekonomi. Namun, Trump kini kembali menuding bahwa tindakan keras Iran terhadap demonstran antipemerintah adalah satu-satunya hal yang mencegah rezim itu runtuh.
"Satu-satunya hal yang mereka miliki adalah BERITA PALSU dari AS, kesediaan untuk membunuh pengunjuk rasa mereka, (sekarang lebih dari 100.000 orang tewas. Mereka harus diadili atas kejahatan perang terhadap kemanusiaan!), dan barisan OMONG KOSONG yang bagus," paparnya.
Angka korban tewas 100.000 orang tersebut adalah rekor baru yang diklaim secara sepihak oleh Trump, naik dari tuduhannya sebelumnya yang menyebut 60.000 orang tewas. Tidak jelas dari mana presiden AS tersebut mendapatkan angka terbaru itu. Pasalnya, otoritas Iran secara resmi menempatkan angka kematian pada 3.117 orang, termasuk anggota pasukan keamanan, dan menyalahkan kematian tersebut pada perusuh yang didukung Israel.
Dalam pernyataannya, Trump juga tampaknya mencampuradukkan konsep kejahatan perang (pelanggaran hukum perang) dengan kejahatan terhadap kemanusiaan (kampanye pelecehan sistemik terhadap warga sipil). Secara terpisah, pemerintahan Trump bahkan telah menjatuhkan sanksi kepada pejabat Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) karena mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas tuduhan kejahatan perang di Gaza.
Di sisi lain, Iran tak tinggal diam dan balik menuduh AS melakukan kejahatan perang karena secara brutal menargetkan warga sipil selama konflik. Salah satu insiden paling berdarah adalah serangan udara AS di Minab, Iran selatan, pada hari pertama perang yang menghantam sebuah sekolah khusus perempuan, menewaskan 168 orang yang sebagian besar adalah anak-anak.
(tps/luc)