Stok Barang Numpuk Terus di Gudang, Alarm Bahaya dari Manufaktur RI?

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 31/08/2026 13:55 WIB
Foto: Ilustrasi Pabrik Plastik. (Dok. Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) merilis, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode Agustus 2026 berada di level 52,30. Indeks yang berada di atas level 50 ini menunjukkan industri manufaktur nasional berada di fase ekspansi.

Hanya saja, fase ini melambat dibandingkan kondisi industri manufaktur nasional di bulan Juli 2026 lalu, juga dibandingkan Agustus 2025.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif menjelaskan, nilai IKI di bulan Agustus 2026 ini melambat 0,80 poin dibandingkan IKI Juli 2026 yang IKI-nya tercatat di 53,10. Juga turun 1,25
poin dibandingkan dengan nilai IKI Agustus tahun 2025 lalu yang sebesar 53,55.


Disebutkan, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, terdapat 22 subsektor mengalami ekspansi. Dan, satu subsektor mengalami kontraksi, yaitu industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki (KBLI 15).

Menurut Febri, subsektor yang ekspansi memiliki kontribusi sebesar 98,6% terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan II 2026.

"Artinya, subsektor yang ekspansi adalah industri-industri besar," kata Febri dalam konferensi pers yang ditayangkan kanal Youtube Kementerian Perindustrian RI, Senin (31/8/2026).

"Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Minuman (KBLI 11) dan Industri Bahan
Kimia dan Barang dari Bahan Kimia (KBLI 20)," sambungnya.

Febri menjelaskan, IKI dibentuk oleh 3 variabel, yaitu pesanan baru, produksi dan persediaan produk.

Terungkap di hasil IKI Agustus 2026, variabel pesanan baru mengalami perlambatan sebesar 0,67 poin atau mencapai 53,13.

Dan, nilai IKI variabel persediaan produk mengalami penurunan sebesar 3,16 poin yang mengakibatkan variabel ini masih kontraksi sebesar 46,02. Sedangkan variabel produksi mengalami peningkatan sebesar 0,55 poin atau mencapai 55,10.

Stok di Gudang Menumpuk

Febri mengungkapkan, fenomena yang terjadi di bulan Juli 2026, masih terjadi di bulan Agustus 2026.

"Perlu kami sampaikan dan ingatkan kembali, pada bulan Juli 2026 lalu, permintaan industri dalam negeri, produksi dalam negeri berdasarkan IKI, meningkat. Sedangkan stok produk manufaktur di gudang, cenderung meningkat juga atau menumpuk," katanya.

"Industri menahan melepas barangnya ke pasar domestik atau pun ekspor karena menunggu berbagai perubahan perbaikan pasar domestik maupun pasar ekspor. Pada bulan Agustus 2026 ini, kami melihat fenomena yang sama. Bahwa, industri masih menunggu perubahan yang terjadi baik di pasar domestik maupun ekspor," papar Febri.

Namun, sambungnya, produksi terus berjalan karena perusahaan melihat ekonomi Indonesia dan global masih akan tetap membaik.

"Berdasarkan orientasi pasar industri, IKI domestik dan ekspansi masih ekspansif meski melambat. Dua-duanya masih di atas 50," kata Febri.

"IKI Ekspor pada bulan Agustus 2026 mencapai 53,09, melambat 0,80 poin dibandingkan dengan bulan Juli 2026 yang sebesar 53,95. Dan, IKI Domestik pada bulan Agustus
2026 mencapai 51,13, mengalami perlambatan 0,86 poin dibandingkan dengan bulan Juli 2026 yang sebesar 51,99," paparnya.

Efek Kenaikan Harga CPO

Seperti diketahui, industri makanan memiliki nilai IKI tertinggi di bulan Agustus 2026. Hal ini, kata Febri, salah satunya ditopang oleh industri sawit Indonesia.

"Kami mendapatkan informasi bahwa industri makanan terutama industri CPO (minyak sawit mentah/ crude palm oil) sedang mengalami kenaikan harga, terutama di pasar ekspor," ujarnya.

"Dan kemudian ada penundaan permintaan CPO terhadap upaya untuk transformasi biodiesel dari B40 ke B50. Dan tentu kita berharap ke depan, permintaan CPO untuk domestik tetap akan naik seiring dengan program Presiden Prabowo Subianto dalam ketahanan energi, terutama transformasi biodiesel dari B40 ke B50," tambahnya.

Lonjakan Biaya Logistik

Sementara, lanjut Febri, lonjakan biaya logistik di luar negeri menjadi pemberat yang memicu perlambatan IKI ekspor di bulan Agustus 2026.

"Salah satu faktor yang menurut kami cukup berpengaruh terhadap penurunan IKI ekspor adalah meningkatnya biaya logistik luar negeri baik itu untuk pembelian bahan baku impor atau pun juga penjualan ekspor manufaktur," kata Febri.

Usaha Melambat Tipis, Pengusaha Tetap Optimistis?

Secara umum, sambung Febri, kegiatan usaha industri nasional di bulan Agustus 2026 mengalami perlambatan, tapi tipis.

Dijabarkan, kondisi kegiatan usaha secara umum pada bulan Agustus 2026 meningkat 0,7 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sebesar 78,6% responden menyampaikan
kegiatan usahanya Membaik dan Stabil.

Proporsi industri yang menyatakan kondisi usahanya Membaik pada bulan Agustus 2026 sebanyak 34,2%, turun 0,4% dibandingkan bulan lalu. Sedangkan persentase responden yang menjawab kondisi usahanya Stabil sebesar 44,4%, naik
1,1%.

Dan, persentase pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya Menurun di bulan Agustus 2026 turun 0,7% menjadi 21,4%.

"Hal ini menunjukkan, kegiatan usaha industri pada bulan Agustus cenderung stagnan," ujar Febri.

Lantas bagaimana dengan optimisme pelaku usaha di Indonesia untuk 6 bulan ke depan?

"Pada Agustus 2026, tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan sebesar 66,6% atau sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini melambat 1,2% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya," paparnya.

Sebanyak 27,4% pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya stabil selama 6 bulan mendatang. Angka ini naik 2,2% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya.

Sedangkan, persentase pesimisme pandangan pelaku usaha terhadap kondisi usaha 6 bulan ke depan sebesar 6,0%, turun 1,0% dibandingkan dengan persentase bulan
sebelumnya.

Di sisi lain, Febri menegaskan, resiliensi manufaktur Indonesia masih lebih kuat dibandingkan manufaktur negara lain.

IKI pada bulan Agustus 2026 mencapai 52,30, sebagaimana dirilis Kemenperin pada Senin (31/8/2026). (Dok. Kemenperin) Foto: IKI pada bulan Agustus 2026 mencapai 52,30, sebagaimana dirilis Kemenperin pada Senin (31/8/2026). (Dok. Kemenperin)


(dce/dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sektor Manufaktur China Mulai Meningkat