MARKET DATA
Timteng Panas RI Kena Getahnya

Kemenperin Akui Sektor Ini Paling Terpukul Krisis Energi Efek Perang

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
31 March 2026 16:26
Jubir Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief (tiga dari kiri) dalam Rilis IKI di kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Foto: Jubir Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief (tiga dari kiri) dalam Rilis IKI di kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak logistik energi di kawasan Timur Tengah mulai terasa ke sektor industri dalam negeri. Namun, pemerintah memastikan dampaknya masih terbatas dan belum mengganggu keseluruhan kinerja manufaktur nasional.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, tekanan akibat gangguan pasokan energi global hanya dirasakan oleh subsektor tertentu, terutama yang bergantung pada bahan baku impor dari kawasan tersebut.

"Terkait dengan krisis logistik energi di Timur Tengah, sampai saat ini kami sampaikan bahwa dampaknya terhadap industri masih terbatas pada subsektor industri tertentu," ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief dalam Rilis IKI di kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026).

Subsektor yang paling terdampak adalah industri berbasis kimia dan petrokimia, yang selama ini memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap bahan baku dari Timur Tengah.

"Terutama subsektor industri yang menggunakan bahan baku dari Timur Tengah, terutama bahan baku yang berasal dari kimia atau petrokimia," lanjutnya.

Meski tekanan eksternal mulai muncul, kondisi industri secara umum masih relatif terjaga. Hal ini tercermin dari capaian IKI yang tetap berada di zona ekspansi.

Namun demikian, dinamika di lapangan menunjukkan adanya penyesuaian produksi oleh pelaku industri. Faktor domestik masih menjadi penyebab utama perubahan ini.

"Turunnya IKI sebesar 2,16 poin dibanding IKI Februari 2026 disebabkan oleh berbagai kombinasi faktor, terutama adalah faktor musiman dengan telah berlalunya hari raya keagamaan, Lebaran dan Imlek, sehingga industri sedikit menurunkan produksinya," jelas Febri.

Selain faktor musiman, distribusi barang juga menjadi tantangan tersendiri. Pembatasan logistik selama periode Lebaran berdampak pada arus barang ke pasar.

"Masih banyak stok barang di gudang dan belum terdistribusi ke distributor atau ke pasar karena ada pembatasan kendaraan logistik selama 16 hari," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat sejumlah industri memilih menahan produksi untuk menjaga keseimbangan stok dan permintaan.

Di sisi lain, lonjakan produksi yang terjadi pada awal tahun juga ikut memengaruhi keputusan pelaku usaha pada bulan berikutnya.

"Ada beberapa industri memang melonjakkan produksinya pada bulan Januari dan Februari 2026 sehingga pada bulan Maret mereka menurunkan produksinya dan tetap mempertahankan stok barangnya di gudang sampai setelah Lebaran," katanya.

Permintaan domestik yang melemah pasca hari besar keagamaan turut memperkuat tren perlambatan ini.

Secara umum, mayoritas pelaku industri masih melihat kondisi usaha dalam kategori stabil, meskipun tekanan mulai meningkat.

"Sebanyak 73,7% industri menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil. Persentase yang menyatakan stabil sebesar 43,5%," ujarnya.

Meski begitu, sinyal kewaspadaan mulai muncul dari pelaku usaha, terutama terkait prospek jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

"Penurunan ini kami sampaikan penyebabnya adalah faktor musiman karena telah lewatnya lonjakan permintaan akibat hari besar keagamaan," sebut Febri.

(dce) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Industri Pengolahan RI Q4-2025 Tetap Ekspansif, PMI 51,86%


Most Popular
Features