6 Bulan Perang Iran, Trump dan Dunia Hadapi 6 Konsekuensi Pedih
Jakarta, CNBC Indonesia - Enam bulan setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, konflik yang semula disebut Presiden Donald Trump sebagai "perjalanan kecil" kini berubah menjadi perang berkepanjangan yang belum menunjukkan jalan keluar. Iran belum menyerah, sementara gangguan di Selat Hormuz terus menekan ekonomi global.
Kini, AS mulai kembali mengandalkan tekanan ekonomi setelah operasi militer belum berhasil memaksa Teheran memberikan konsesi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada para sekutu bahwa Washington kemungkinan tidak akan melancarkan serangan baru "untuk saat ini".
Berikut 6 konsekuensi yang dihadapi Trump dan dunia selama perang Iran berlangsung, seperti dikutip Reuters, Jumat (28/8/2026).
1. Trump Hadapi Tekanan Politik
Perang justru menjadi beban politik bagi Trump. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump turun dari 40% menjadi 33% sejak konflik dimulai, seiring kenaikan harga bahan bakar yang bertentangan dengan janji kampanyenya untuk menurunkan biaya hidup.
Hanya 31% warga AS yang menyatakan mendukung konflik tersebut. Rendahnya dukungan ini berpotensi menjadi masalah bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November, ketika partai itu berusaha mempertahankan mayoritas tipis di Kongres.
Konflik juga memperlebar perbedaan di antara anggota Partai Republik mengenai apakah tekanan militer terhadap Teheran harus dilanjutkan.
2. Ekonomi Global Terguncang
Perang membuat pasar energi terpukul karena Selat Hormuz, jalur strategis selebar sekitar 34 kilometer, menangani sekitar seperlima pasokan energi dunia. Gangguan pelayaran sempat mendorong harga minyak melonjak dan memunculkan kekhawatiran terjadinya perlambatan ekonomi global.
Namun, dampaknya sejauh ini lebih terbatas dari skenario terburuk. Dana Moneter Internasional (IMF) kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3% tahun ini, turun dari proyeksi 3,3% pada Januari.
Ekonomi negara-negara besar dinilai lebih tahan terhadap guncangan energi dibanding era krisis minyak 1970-an, antara lain karena penggunaan energi yang lebih efisien serta kuatnya investasi dan belanja, termasuk di sektor kecerdasan buatan.
3. Iran Terpukul, tapi Belum Kalah
Serangan telah menyebabkan kerusakan besar terhadap militer dan ekonomi Iran. Komandan militer AS untuk Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, mengatakan pada Mei bahwa pasukan AS telah menghancurkan 161 kapal perang Iran dan melumpuhkan 82% sistem pertahanan udaranya.
Namun, Teheran masih memiliki kemampuan meluncurkan drone dan rudal serta mempertahankan gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Perang juga memperburuk kondisi ekonomi Iran. Inflasi makanan bahkan mencapai 128% secara tahunan pada Juli, menurut Pusat Statistik Iran.
Di sisi politik, konflik justru mendorong perbedaan internal mereda dan memperkuat tindakan pemerintah terhadap kelompok oposisi.
4. Timur Tengah Makin Tidak Stabil
Tujuan AS dan Israel untuk mengurangi ancaman Iran justru membuat kawasan menghadapi ketidakpastian baru. Serangan rudal dan drone Iran terhadap negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS menghantam fasilitas militer dan diplomatik serta mengganggu penerbangan.
Gangguan terhadap pelayaran Iran, ditambah aksi kelompok Houthi terhadap lalu lintas yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah, turut menaikkan biaya asuransi dan transportasi. Dampaknya menjalar ke rantai pasok dan perekonomian negara-negara Teluk.
5. Program Nuklir Iran Melambat
Serangan AS dan Israel merusak tiga fasilitas pengayaan Iran serta sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan program senjata. Intelijen AS pada Mei memperkirakan waktu yang dibutuhkan Iran untuk menghasilkan material fisik dalam jumlah cukup untuk satu bom nuklir kini mencapai hingga satu tahun, dibandingkan sekitar enam bulan sebelum perang.
Meski demikian, kondisi sebenarnya program nuklir Iran masih sulit dipastikan karena inspektur PBB belum kembali ke sejumlah lokasi. Badan Energi Atom Internasional juga belum dapat memverifikasi keberadaan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%. Iran sendiri selama ini membantah tengah mengembangkan senjata nuklir.
6. Kesiapan Militer AS Ikut Terkuras
Perang juga menekan kemampuan militer AS. Sebanyak 18 anggota militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 750 lainnya terluka, sementara laporan Congressional Research Service menyebut 42 pesawat militer AS telah hilang selama konflik.
Persediaan amunisi menjadi perhatian utama. Reuters melaporkan AS telah menggunakan hampir seluruh stok global untuk jenis rudal presisi tertentu. Pusat Studi Strategis dan Internasional memperkirakan hingga Juli AS telah menggunakan sekitar 65% pencegat Patriot dan mengurangi stok pencegat THAAD setidaknya 38%.
Washington juga mengerahkan kapal perang, jet tempur, dan aset lainnya ke Timur Tengah dari Eropa serta Asia-Pasifik, sehingga perang Iran mulai memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan militer AS menghadapi ancaman di kawasan lain.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]