MARKET DATA
Internasional

Ekonomi China Gemetar! Laba Industri Ambruk, Terburuk Tahun Ini

tps,  CNBC Indonesia
27 August 2026 21:40
The Chinese flag at Tiananmen Square flies at half-mast in memory of the late former Chinese Premier Zhu Rongji, who passed away last Wednesday, aged 97, in Beijing, China, August 18, 2026. REUTERS/Maxim Shemetov
Foto: China (REUTERS/Maxim Shemetov)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan laba industri China pada bulan Juli melambat ke laju terlemahnya tahun ini, dengan hanya berekspansi 11,2% dari tahun sebelumnya. Lesunya permintaan dan perlambatan ekonomi yang lebih luas menjadi beban berat bagi para produsen di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Mengutip CNBC Internatioal, Kamis (27/08/2026), Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat bahwa selama tujuh bulan pertama tahun ini, laba naik 17,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut secara nyata menunjukkan hilangnya momentum jika dibandingkan dengan pertumbuhan 18,7% yang sempat dicetak pada paruh pertama.

Meski demikian, profitabilitas perusahaan industri sejatinya telah melihat titik balik yang nyata, dari pertumbuhan yang hampir tidak positif tahun lalu menjadi kenaikan dua digit tahun ini. Pemulihan tersebut sebagian besar ditopang oleh ledakan kecerdasan buatan (AI) global yang memicu tingginya permintaan untuk pembuatan peralatan komputasi dan elektronik.

Industri sirkuit terpadu, yang dipimpin oleh produsen chip memori dan komputasi, mencatat ekspansi laba 18,5% pada periode Januari-Juli secara tahunan, dan menyumbang lebih dari 80% dari total perolehan laba di seluruh sektor elektronik. Kenaikan laba lebih dari lima kali lipat dalam manufaktur serat optik juga turut mendongkrak perolehan keseluruhan dalam manufaktur maju.

Kinerja positif juga datang dari produsen bahan baku yang melihat laba melonjak tajam 55,2% pada akhir Juli secara tahunan. Industri pengolahan minyak bumi juga berhasil membalikkan keadaan menjadi untung selama tujuh bulan karena gangguan pasokan di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga produk kimia hilir.

Ekonom Senior di Economist Intelligence Unit (EIU), Tianchen Xu, membeberkan bahwa bahan baku dan rantai pasokan AI tetap tangguh. Namun, industri yang berhadapan langsung dengan konsumen justru sangat kesulitan.

"Pertumbuhan yang melambat terutama diseret turun oleh jatuhnya investasi di properti dan infrastruktur, dibuktikan dengan memburuknya laba di industri baja dan semen," paparnya.

Sektor konsumen yang babak belur ini tercermin pada manufaktur furnitur yang mencatat penurunan laba semakin tajam hingga 58,2% pada tujuh bulan pertama tahun ini. Angka tersebut jauh lebih buruk dari angka 52,7% pada bulan Juni lalu.

Data LSEG menyoroti bahwa harga produsen China pada Juni sejatinya sempat tumbuh pada laju tercepat dalam hampir empat tahun setelah pulih dari kemerosotan multi-tahun sejak Oktober 2022. Namun, dorongan reflasi ini tampaknya mulai memudar karena pemulihan harga hanya didorong oleh melonjaknya biaya energi global, sementara permintaan domestik tetap tertinggal.

Inflasi tingkat pabrik pada akhirnya melambat ke level terendah tiga bulan. Angkanya 3,5% pada bulan Juli.

Kondisi lesu ini selaras dengan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua yang melemah ke laju paling lambat dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Pelacak aktivitas dari tim riset Bank of America mengindikasikan adanya kehilangan momentum pertumbuhan secara luas pada bulan Juli.

Pertumbuhan ekspor riil anjlok menjadi 5,5% dari 11,6% pada bulan Juni. Ini pun disertai indikator lain seperti penjualan ritel, lalu lintas pelabuhan, dan produksi listrik yang semakin melemah.

Para ekonom kini memperkirakan otoritas China akan meningkatkan dukungan yang ditargetkan untuk menstabilkan profitabilitas perusahaan. Ekonom di Julius Baer, Sophie Altermatt, memprediksi pengerahan sumber daya fiskal yang ada kemungkinan akan dipercepat selama beberapa bulan ke depan, dengan potensi langkah pelonggaran tambahan jika pertumbuhan terus merosot.

"Ini harus memberikan beberapa stabilisasi jangka pendek dan menempatkan dasar di bawah pertumbuhan," ucapnya.

"Kehancuran pasar properti, kepercayaan rumah tangga yang lesu, dan investasi swasta yang lemah membatasi pemulihan," tambahnya menegaskan bahwa kebangkitan siklus ekonomi yang kuat masih sangat tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Rumah Ambruk! Bos Properti China Dipenjara Seumur Hidup


Most Popular
Features