Muncul Fenomena Warga RI Lagi Rem Liburan ke Luar Negeri, Ada Apa?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 18:30 WIB
Foto: Sejumlah penumpang berjalan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (4/12/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan daya beli masyarakat mulai ikut memengaruhi keputusan untuk melakukan perjalanan. Kondisi ekonomi yang penuh tekanan membuat sebagian masyarakat lebih berhati-hati dalam mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan perjalanan.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) Pauline Suharno melihat sejumlah faktor ekonomi turut menekan minat masyarakat bepergian. Kondisi tersebut tidak berdiri sendiri karena terdapat beberapa komponen biaya yang ikut berubah.

"Daya beli melemah, kenaikan harga tiket, kenaikan bahan baku, dan banyaknya lay off," kata Pauline Suharno kepada CNBC Indonesia, Rabu (26/8/2026).


Tekanan juga datang dari perubahan kondisi aset finansial masyarakat. Pergerakan pasar keuangan dapat memengaruhi rasa percaya diri konsumen ketika menentukan pengeluaran untuk kebutuhan yang bersifat rekreasi.

"Pelemahan nilai saham, penurunan harga emas juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi minat orang bepergian," ujarnya.

Namun, kondisi tersebut tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Segmen konsumen dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi dinilai masih memiliki ruang untuk mempertahankan anggaran perjalanan.

"Kalau yang menengah ke atas justru tidak terpengaruh," kata Pauline.

Sejumlah penumpang berjalan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (4/12/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Sejumlah penumpang berjalan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (4/12/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Data Bank Indonesia memberikan gambaran mengenai perubahan arus perjalanan internasional Indonesia. Dalam Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal II-2026, jumlah pelawat ke luar negeri tercatat 1,96 juta orang, turun dari 2,5 juta orang pada kuartal sebelumnya.

Sebaliknya, jumlah pelawat yang masuk ke Indonesia justru meningkat menjadi 4,01 juta orang dari sebelumnya 3,43 juta orang. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya perbedaan tren antara perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri dan kedatangan pelawat dari luar negeri.

Di tengah tekanan tersebut, industri travel masih memiliki ruang untuk memulihkan kinerja. Momentum penjualan dan pameran perjalanan menjadi salah satu indikator bahwa konsumen belum sepenuhnya meninggalkan kebutuhan untuk bepergian.

"Semoga better, melihat result kami semester ke 2 kali ini lebih bagus, karena di Astindo Travel Fair 20-23 Agustus result kami sangat bagus, naik 40% dari tahun lalu," kata Pauline.

Kinerja jasa perjalanan Indonesia sendiri masih mencatatkan surplus pada kuartal II-2026. Bank Indonesia mencatat surplus jasa perjalanan sebesar US$606 juta, meski menyusut dari US$1,09 miliar pada kuartal I-2026.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Suasana Terkini Jelang Pidato Nota Keuangan & RAPBN 2027