Internasional

47 Orang Tewas Diserang Geng Bersenjata, Ini Respons Pemerintah-Polisi

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 25/08/2026 10:53 WIB
Foto: REUTERS/Fildor Pq Egeder

Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya 47 orang tewas dan 22 lainnya terluka dalam serangan kelompok bersenjata di sebuah kawasan permukiman di Kenscoff, wilayah perbukitan yang menghadap ibu kota Haiti, Port-au-Prince. Serangan terjadi pada Senin (24/8/2026) dini hari dan memicu kemarahan warga karena lokasi kejadian berada tidak jauh dari kantor kepolisian.

Kantor Terpadu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Haiti menyebut jumlah korban tersebut masih merupakan perkiraan dan dapat berubah seiring proses pendataan. Kelompok hak asasi manusia Haiti, RNDDH, memperkirakan sekitar 30-40 orang tewas dan 15-20 lainnya terluka dalam serangan yang dimulai sekitar pukul 22.30 waktu setempat.

Kenscoff menjadi salah satu wilayah strategis karena berada di posisi yang mengawasi sejumlah jalur menuju Port-au-Prince. Kawasan tersebut telah mengalami sekitar selusin serangan kelompok bersenjata sejak tahun lalu, yang memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka.


Kelompok-kelompok bersenjata yang tergabung dalam aliansi besar selama bertahun-tahun telah memperkuat pengaruhnya di ibu kota Haiti dan memperluas wilayah kekuasaan ke daerah-daerah di sekitarnya. Kondisi tersebut terus terjadi meski sejumlah negara asing berupaya membantu memperkuat kepolisian Haiti yang kekurangan personel dan persenjataan.

Warga Kenscoff kini menuntut pertanggungjawaban pemerintah dan meminta kepala kepolisian setempat dicopot. Mereka menilai aparat gagal melindungi warga, terlebih karena serangan berlangsung hanya beberapa menit dari kantor polisi.

Kantor Perdana Menteri Haiti menyebut serangan tersebut sebagai aksi yang keji dan berjanji memperkuat keamanan di Kenscoff.

Serangan mematikan semalam oleh geng bersenjata, di pinggiran Port-au-Prince, di Kenscoff, Haiti, 24 Agustus 2026. REUTERS/Fildor Pq Egeder Foto: REUTERS/Fildor Pq Egeder

"Kenscoff tidak akan ditinggalkan. Wewenang pemerintah akan dipulihkan, tanpa kelemahan dan tanpa penundaan," tulis pernyataan kantor perdana menteri melalui media sosial dilansir dari Reuters.

Kekerasan di Kenscoff sebenarnya telah berlangsung sejak awal 2025. Dalam serangkaian serangan selama dua bulan pada periode tersebut, lebih dari 260 orang tewas dan sekitar 200 rumah dihancurkan atau dibakar. Berdasarkan perkiraan PBB, sekitar 3.000 warga terpaksa mengungsi dari wilayah tersebut.

Sejak saat itu, hampir selusin serangan kembali terjadi. Kekerasan tersebut mencakup pemerkosaan, penculikan, pembakaran rumah, hingga pencurian ternak.

Coriolan Kendy, salah seorang warga, mengatakan keluarganya menjadi korban dalam serangan terbaru tersebut. Ia menyampaikan pernyataan itu sambil berdiri di dekat jasad sepupunya yang tergeletak di jalan dan ditutupi kain bernoda darah.

"Keluarga saya adalah korban. Warga Kenscoff menderita dan pemerintah harus disalahkan," ujar Kendy.

Warga lainnya, yang hanya menyebut namanya sebagai Orisme, juga meminta dukungan pemerintah. Ia mengatakan masyarakat Kenscoff merasa dipermalukan karena serangkaian serangan terus terjadi tanpa perlindungan yang memadai.

"Kami hidup dalam penghinaan dan mereka tidak melakukan apa pun untuk kami," katanya, sembari meminta dukungan dari perdana menteri.

Sejumlah warga mengatakan puluhan polisi sempat berupaya menghadang kelompok bersenjata tersebut pada malam hari. Beberapa polisi disebut terluka dalam upaya tersebut. Warga juga mengatakan mereka tidak menemukan anggota kelompok bersenjata di antara orang-orang yang tewas.

Media lokal melaporkan beberapa rumah dibakar dalam serangan itu, termasuk rumah Jean William Pape, seorang pakar kesehatan masyarakat terkemuka di Haiti.

Kepala Kepolisian Nasional Haiti, Vladimir Paraison, membantah anggapan bahwa aparat menyerah dalam menghadapi serangan tersebut. Saat mengunjungi Kenscoff setelah kejadian, ia mengatakan polisi terus bertahan menghadapi kelompok bersenjata.

"Polisi tidak pernah menyerah," ujar Paraison kepada wartawan.

Kenscoff memiliki posisi penting karena menghadap jalur menuju Petion-Ville, kawasan yang menjadi lokasi sejumlah kedutaan besar, hotel-hotel kelas atas, serta tempat sementara pemerintahan Haiti. Wilayah tersebut juga berada di dekat jalan utama yang menghubungkan Port-au-Prince dengan bagian selatan Haiti.

Gelombang kekerasan terbaru turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemampuan Haiti menggelar pemilu pada Desember mendatang. Pemilu tersebut akan menjadi yang pertama dalam satu dekade setelah sejumlah pemerintahan sebelumnya berulang kali menunda pelaksanaan pemilu akibat semakin kuatnya pengaruh kelompok bersenjata.

Sementara itu, Gang Suppression Force yang didukung PBB dan memiliki mandat membantu kepolisian Haiti memerangi kelompok bersenjata menargetkan kapasitas lebih dari 5.500 personel pada musim gugur tahun ini.

Juru bicara pasukan tersebut belum segera memberikan tanggapan ketika ditanya apakah pasukan akan dikerahkan untuk memperkuat keamanan di Kenscoff.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Go Global, Danantara Investasi di Hotel Mekah - Airport Madinah