12 Poin Pidato PM Singapura ke Warga: Buat Pulau Baru-Visi 100 Tahun
8.Kemudahan Warga Mendapat Rumah
Batas pendapatan rumah tangga untuk membeli BTO, yaitu program pembangunan perumahan publik Singapura yang dikelola oleh Housing & Development Board (HDB), naik dari S$14.000 menjadi S$16.000, atau sekitar Rp223 juta per bulan. Batas untuk Executive Condominium naik menjadi S$18.000, sekitar Rp251 juta per bulan.
"Kami ingin memastikan bahwa sebagian besar pasangan Singapura tetap dapat mengakses perumahan publik bersubsidi," tegasnya.
Menurutnya, semakin banyak anak, semakin besar peluang dapat rumah. Keluarga yang pertama kali membeli rumah akan mendapatkan satu tambahan kesempatan undian untuk setiap anak yang dimiliki atau sedang dinantikan.
"Semakin banyak anak yang Anda miliki, semakin banyak kesempatan undian yang akan Anda dapatkan, karena kami ingin membantu keluarga yang sedang berkembang mendapatkan rumah lebih cepat," jelasnya.
9.Imigrasi Jadi Strategi Kependudukan Singapura
Wong mengatakan tingkat fertilitas Singapura diperkirakan masih jauh di bawah tingkat penggantian. Karena itu, imigrasi tetap menjadi bagian dari strategi Singapura.
"Jika kita hanya mengandalkan kelahiran, populasi warga negara kita akan menyusut. Kita akan menua lebih cepat, dan akan ada lebih sedikit warga Singapura yang lebih muda untuk mendukung jumlah lansia yang terus bertambah," ujarnya.
Menurutnya, Singapura akan tetap menerima pendatang dan pekerja asing, tetapi jumlahnya akan dikelola secara hati-hati. Wong menegaskan pendatang harus berintegrasi dengan masyarakat Singapura.
"Kami akan selalu memastikan bahwa warga Singapura tetap menjadi mayoritas di negara kami sendiri."
10. Singapura Bangun Pulau Baru
Beberapa pulau di selatan Jurong Island akan digabung menjadi pulau baru dalam beberapa dekade mendatang. Pulau tersebut dapat digunakan untuk industri manufaktur maju, pembangkit listrik dan kebutuhan strategis lainnya.
"Pulau baru di bagian barat ini dapat membantu membentuk Singapura untuk 50 tahun ke depan dan seterusnya," jelasnya.
Menurutnya, ada 500 hektare lahan baru di Pulau Tekong. Pemerintah Singapura juga sedang mempelajari pembangunan terowongan bawah laut menuju Pulau Tekong, salah satu proyek yang menurut Wong menjadi pekerjaan teknik besar karena negaranya belum pernah membangun terowongan bawah laut dengan skala seperti itu.
"Yang penting adalah kita memiliki ruang tersebut, dan itu memberi kita pilihan-pilihan berharga untuk masa depan," tempatnya.
"Jika kita tidak bisa melintasi laut di atasnya, kita akan mencoba melewatinya di bawah laut," tambahnya.
Sementara itu, Singapura juga akan mentransformasi kawasan Sentosa dan Pulau Brani menjadi destinasi terpadu. Pemerintah akan meningkatkan akses ke pantai dan waterfront Sentosa, sementara Pulau Brani akan dikembangkan setelah aktivitas pelabuhan dipindahkan.
"Bersama-sama, Sentosa dan Brani akan menjadi satu destinasi terpadu yang akan mengubah kawasan waterfront selatan dan menawarkan lebih banyak hal untuk dilihat, dilakukan dan dinikmati warga Singapura maupun pengunjung," tambahnya.
11.Singapura BuaT Rencana 100 tahun
Wong menegaskan pembangunan Singapura tidak boleh hanya melihat kebutuhan jangka pendek. Ia bahkan menegaskan rencana ini untuk 100 tahun Singapura.
"Kami merencanakan bukan hanya untuk lima atau 10 tahun. Kami merencanakan 50, 70, bahkan 100 tahun ke depan," katanya.
Ia mencontohkan Jurong Island yang dibangun oleh generasi sebelumnya. Kini, ini menjadi pusat energi serta industri kimia global.
"Para pelopor kita membangun Jurong Island jauh sebelum siapa pun dapat melihat seperti apa jadinya. Mereka merencanakan dan membangun untuk generasi kita. Sekarang giliran kita melakukan hal yang sama untuk generasi berikutnya," tambahnya
12.Pesan Penutup
Dalam pidato NDR 2026, Wong pada dasarnya menawarkan satu pesan besar. Yakni Singapura harus tetap terbuka kepada dunia, tetapi semakin tangguh menghadapi guncangan dari luar.
Teknologi akan menjadi mesin pertumbuhan baru, keluarga akan mendapat dukungan lebih besar, sementara pembangunan fisik akan dirancang untuk kebutuhan generasi yang bahkan belum lahir.
"Kita tidak dapat memilih dunia tempat kita hidup. Tetapi kita dapat memilih bagaimana kita meresponsnya," ujarnya.
"Kita beradaptasi, bukan berdiam diri. Kita berdiri bersama, bukan saling berhadapan satu sama lain," tegasnya.
(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]