Panas Bumi RI Berumur 100 Tahun, Bos PGE Beberkan Peran Strategisnya

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Kamis, 20/08/2026 10:41 WIB
Foto: Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), Ahmad Yani, saat sesi wawancara di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Ahmad Yani memastikan sumber energi panas bumi di Indonesia masih bertahan meski sudah berumur 100 tahun. Menurutnya, seperti banyak negara, Indonesia juga mengembangkan sumber daya energi yang ada di dalam negeri dalam rangka penanggulangan krisis energi karena ketidakpastian global.

"Indonesia kaya akan geothermal dan 40% potensi geothermal dunia ada di Indonesia, serta 84% ada di Asean. Nah, inilah opportunity untuk kita terkait dengan bagaimana peran strategis geothermal, energi yang kita miliki sendiri, sangat besar 24 gigawatt," jelas Ahmad Yani dalam Energy Corner, Squawk Box, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, energi panas bumi memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan mendukung pemerintah untuk merealisasikan transisi energi dan kemandirian energi. Ahmad Yani memastikan PGEO akan mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi agar memberikan nilai tambah.


"Dari 24 gigawatt yang ada, saat ini itu baru 11% yang termanfaatkan. Nah, inilah menjadi PR kita bersama dalam pertemuan IIGCE ini juga merupakan kita diskusi bersama investor, pemangku kepentingan, IPP, dan pemerintah sama-sama mencari jalan keluar ini. Bagaimana energi yang besar ini bisa tumbuh berkembang di Indonesia," tegas dia.

Dia merinci salah satu upaya yang bisa dilakukan PGEO adalah menciptakan iklim bisnis dari panas bumi itu bisa menjadi feasible dan bankable. Oleh karena itu, pihaknya terus berdiskusi dengan pemerintah. Sedangkan untuk sumber panas bumi, dia memastikan tidak ada masalah dan masih sangat realistis.

Untuk diketahui, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta pelaku usaha panas bumi mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Terlebih, pemerintah sudah menargetkan tambahan kapasitas 5,2 Giga Watt (GW) PLTP pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Bahlil, mengatakan percepatan ini hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah. Dia menjelaskan, saat dirinya baru menjabat sebagai Menteri ESDM, dirinya langsung membuat terobosan untuk mempercepat pengembangan panas bumi di Tanah Air, melalui pemangkasan aturan yang panjang. Tapi setelah itu dilakukan, pengembangan panas bumi juga masih lambat.

"Sejak saya dilantik jadi Menteri ESDM, saya cek apa sih yang membuat lambat, karena saya dulu pengusaha juga. Saya dulu sebelum masuk di pemerintah, saya pengusaha. Dan setelah saya masuk pemerintah, saya jadi Menteri Investasi. Pengusaha itu kan mau cepat, tapi kalau aturannya berbelit-belit, lambat, ya mau gimana? Maka yang pertama saya lakukan adalah memangkas tahapan peraturan yang panjang lebar itu. Dan sekarang ternyata setelah saya evaluasi, masih banyak juga hambatan-hambatan terhadap aturan-aturan itu," jelas Bahlil.


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cetak Kinerja Manis, Laba PGEO H1-2026 Tumbuh 15,47%