MARKET DATA
Internasional

Negara Arab Sohib Israel Ini Ngamuk, Putus Hubungan dengan Iran

tps,  CNBC Indonesia
19 August 2026 09:50
Kebakaran terjadi di zona industri minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab, pada tanggal 4 Mei. (Tangkapan Layar)
Foto: (Tangkapan Layar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Emirat Arab (UEA) menuduh Iran telah menembakkan dua rudal balistik ke arah wilayahnya pada hari Selasa. Serangan militer mematikan ini terjadi tepat saat jeda waktu dua bulan untuk pembicaraan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa adanya terobosan.

Hal ini membuat Abu Dhabi langsung murka. Negara Arab yang membuka hubungan dengan Israel melalui Perjanjian Abraham (Abraham Accord) yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tersebut, langsung menghentikan seluruh transaksi perdagangan serta keuangan dengan Teheran.

Mengutip Russia Today, Rabu (19/08/2026), dugaan insiden serangan tersebut dilaporkan langsung oleh Kementerian Pertahanan UEA dan Otoritas Manajemen Krisis dan Bencana Darurat Nasional (NCEMA). Kedua lembaga itu menyebut ada dua rudal menyerang di mana satu rudal jatuh di dalam perairan teritorial UEA sementara rudal yang kedua mendarat di luar perairan.

Pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan UEA juga memberikan informasi lanjutan bahwa proyektil tersebut tampaknya sengaja menargetkan "navigasi maritim". Pihak kementerian tidak merinci lebih lanjut apakah ini terkait kapal pelayaran tertentu yang beroperasi di perairan domestiknya atau di perairan internasional.

Militer UEA kemudian memberikan penilaian mengenai dugaan serangan mematikan tersebut. Setelahnya Kementerian Luar Negeri langsung UEA mengambil langkah tegas dan mengumumkan penghentian semua aktivitas perdagangan dan transaksi dengan Iran.

"Mengingat eskalasi regional yang merusak perdamaian dan keamanan regional serta internasional, semua kegiatan, pertukaran perdagangan, dan transaksi keuangan dengan Iran telah ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut," tegasnya.

Iran hingga saat ini belum memberikan komentar publik secara resmi mengenai tuduhan tersebut. Pada puncak peperangan AS-Israel terhadap Iran, Teheran diketahui berulang kali menargetkan negara Teluk itu karena dituduh telah mengizinkan pasukan AS menggunakan wilayah UEA untuk melancarkan serangannya.

Namun, stasiun penyiaran milik pemerintah Iran, Press TV, justru mengklaim bahwa rentetan serangan rudal tersebut memiliki ciri khas sebagai "operasi bendera palsu (false-flag)". Ini merujuk serangan kusus di mana Israel berada di belakang serangan.

Sementara itu, waktu 60 hari yang ditetapkan dalam memorandum AS-Iran untuk mencapai kesepakatan damai diketahui telah kedaluwarsa pada hari Senin, tanpa menghasilkan satu pun terobosan. Kedua belah pihak justru berulang kali saling berbalas serangan selama periode negosiasi berlangsung, sementara lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz yang strategis sebagian besar masih lumpuh dan terganggu.

Selasa, Trump mengonfirmasi bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung atau dijadwalkan dengan pihak Iran saat ini. Ia menyampaikan pernyataannya tersebut secara gamblang melalui sebuah unggahan di platform Truth Social.

"Blokade Angkatan Laut tetap berlaku penuh dan efektif. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau air telah disingkirkan atau diledakkan," ungkapnya.

Trump juga melontarkan klaim barunya di unggahan kemarin. Sang presiden membagikan peta Selat Hormuz beserta sekitarnya dengan area yang dilingkari dan diberi label milik AS.

"Wilayah baru Amerika Serikat," bunyi tulisan itu.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Mayday Mayday! Serangan Rahasia UEA ke Iran Bisa Jadi Perang Baru


Most Popular
Features