MARKET DATA

Manajemen Grup Ritel Bongkar Rahasia Dapur-Pede Masuk Bisnis Toko Buku

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
18 August 2026 20:10
Finance Director Joysparks Group Dedi Wongso (dua dari kiri) dan Direktur Supermarket PT Star Maju Sentosa Meshvara Kanjaya (tiga dari kiri) dalam konferensi pers di Serpong, Selasa (18/8/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Foto: Finance Director Joysparks Group Dedi Wongso (dua dari kiri) dan Direktur Supermarket PT Star Maju Sentosa Meshvara Kanjaya (tiga dari kiri) dalam konferensi pers di Serpong, Selasa (18/8/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bisnis ritel menghadapi tantangan yang tidak ringan di tengah perubahan pola belanja masyarakat. Persaingan harga yang ketat membuat pelaku usaha harus mencari cara lain untuk menjaga pelanggan tanpa mengorbankan keuntungan.

Direktur Supermarket Happy Harvest Meshvara Kanjaya mengakui margin dalam bisnis supermarket memang tipis. Kondisi tersebut membuat perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan strategi potongan harga untuk menarik konsumen, melainkan harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan profitabilitas.

"Margin supermarket itu tipis sekali. Jadi bagaimana kita membalancing kalau istilah saya tuh bagaimana kita seperti main juggle, supaya sales-nya nggak naik aja tapi marginnya hancur. Bagaimana kita menjaga balance itu kami mempunyai slogan yang setiap pagi itu harus kita dengungkan," kata Mey, sapaan akrabnya dalam konferensi pers di Serpong, Selasa (18/8/2026).

Untuk menjaga margin, Happy Harvest mengembangkan berbagai program yang membuat pelanggan datang bukan semata karena harga murah. Program loyalty, Stamp Rally, aktivitas komunitas hingga pengalaman berbelanja menjadi bagian dari strategi tersebut.

Perusahaan juga memperkuat diferensiasi melalui produk lokal. Happy Harvest, misalnya, menyediakan puluhan varian kopi Indonesia serta berbagai teh lokal. Di gerai terbarunya, perusahaan bahkan mulai bereksperimen menjual udang hidup sebagai bagian dari konsep freshness yang ingin ditawarkan kepada pelanggan.

"Kalau kita cuma berjualan dengan harga diskon, diskon, diskon, how low can you go? Tapi kita harus berpikir kreatif membuat customer belanja beyond diskon, oh saya suka ke sini beyond just the products," ujar Mey.

Strategi tersebut juga menyasar kelompok konsumen yang lebih spesifik. Happy Harvest menjalankan program seperti komunitas catur untuk anak-anak, program warga senior, hingga kegiatan yang mengangkat kuliner Indonesia. Pendekatan ini diharapkan membuat hubungan antara konsumen dan toko tidak berhenti pada transaksi.

Di sisi lain, perusahaan sebagai induk usaha juga melihat diversifikasi bisnis sebagai cara menghadapi tekanan industri ritel. Grup ini menaungi Star Department Store, Happy Harvest Supermarket dan Lintas Bookstore sehingga sumber pendapatannya tidak hanya berasal dari bisnis department store.

"Kami melihat growth ini bukan sekadar sesuatu itu tetapi secara keseluruhan menurun tetapi selalu ada potensi. Nah kami dari tahun lalu masih bisa growth single digit yang kita rasa banyak retailer struggling. Kami bersyukur kami masih bisa bertahan karena kita menyasar segmentasi yang kita rasa cukup bisa bertahan dengan kondisi saat ini," kata Finance Director Joysparks Group Deddy Wongso.

Selain itu, perusahaan tetap berani melakukan ekspansi meski margin ritel tertekan. Choice Sparks menyiapkan anggaran Rp150 miliar-Rp200 miliar per tahun selama dua tahun ke depan dan menargetkan jumlah gerai yang saat ini mencapai 10 unit dapat berlipat ganda dalam dua hingga tiga tahun.

"Retailer nggak bisa diam, memang harus berubah. Ini yang dipahami oleh kami dan terus-menerus harus berinovasi untuk bisa bertahan," kata Deddy.

Agresif Ekspansi Gerai Toko Buku

Keyakinan itu pula yang mendasari Joysparks Group juga agresif mengembangkan sayap bisnis lewat jaringan toko buku. 

Grup ritel tersebut akan membuka Lintas Bookstore, lini bisnis baru yang masuk ke pasar toko buku. Gerai perdana Lintas Bookstore ditargetkan beroperasi sebelum akhir 2026 dan akan berlokasi di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Bookstore Director Lintas Bookstore Andi Yuktipada mengatakan keputusan masuk ke bisnis toko buku tidak semata-mata didasarkan pada perhitungan pasar. Manajemen memiliki ketertarikan terhadap budaya membaca, sekaligus melihat adanya peluang bisnis di tengah perubahan bentuk toko buku.

"Pertanyaan kenapa grup kita masuk ke toko buku? Itu kayaknya ketemu 10 orang 11 orang nanya. Betul, semua pasti bilang orang Indonesia nggak ada yang baca buku, ngapain buka bookstore gitu ya? Sebenarnya jawabannya ada dua. Pertama agak sentimentalisme bahwa kita di manajemen dan owner memang pembaca buku dari lama sekali kami sangat suka baca buku," kata Andi dalam konferensi pers di Serpong, Selasa (18/8/2026).

Melemahnya industri toko buku tidak otomatis berarti masyarakat sudah kehilangan minat terhadap buku. Perubahan justru terjadi pada cara toko buku membangun pengalaman dan menggabungkan produk buku dengan kebutuhan gaya hidup konsumennya. Apalagi skor membaca PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia juga tergolong lemah.

"Jangan-jangan alasan itu adalah alasan kita sebenarnya harus bikin bookstore, karena kalau kita pragmatis terus lihat bahwa ya orang Indonesia nggak baca, terus negatif investment di industri toko buku atau supply chain-nya ya penerbitan penulisan semua gitu ya. Skor PISA kita kapan mau naik? apa harapannya buat bangsa kita. Jadi alasan pertama saya makanya saya bilang alasan pertama adalah sentimentalisme selain kita suka ya kita juga pengen dorong justru karena skor PISA kita rendah kita pengen Indonesia kembali membaca," ujar Andi.

Perusahaan akan membawa konsep international lifestyle bookstore, dengan buku menjadi bagian dari ekosistem gaya hidup. Produk yang ditawarkan juga akan dikurasi berdasarkan karakter pengunjung, termasuk stationery yang lebih collectible dan stylish.

Dari sisi produk buku, Lintas Bookstore akan membawa koleksi dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Andi menyebut lini bahasa Mandarin menjadi salah satu diferensiasi yang ingin dibawa, sementara produk lifestyle akan menjadi bagian penting dari posisi toko buku.

Gerai pertama Lintas Bookstore dijadwalkan hadir di Kelapa Gading pada kuartal IV 2026. Masuknya Choice Sparks ke bisnis buku menjadi bagian dari strategi perusahaan memperluas portofolio, setelah sebelumnya mengembangkan Star Department Store dan Happy Harvest Supermarket.

"Store pertama ini kita akan buka sebelum tahun ini berakhir. Jadi masih ada berapa bulan nih ya, sebelum tahun ini berakhir eh mungkin bocoran dikit, udah boleh, toko pertamanya akan ada di Kelapa Gading," kata Andi.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga RI Jajan Habiskan Lebih Rp393 Triliun, Mendag Jelaskan Artinya


Most Popular
Features