MARKET DATA
Internasional

Presiden Ini Memerintah Sejak 1984, Mendadak "Hilang" Tak Berjejak

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
15 August 2026 21:45
Profil Presiden Kamerun Paul Biya. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)
Foto: Profil Presiden Kamerun Paul Biya. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kamerun Paul Biya telah memimpin negaranya sejak memenangkan pemilihan presiden pada 1984. Kini, di usia 93 tahun, ia masih menjabat sebagai kepala negara, tetapi keberadaannya selama dua bulan terakhir memicu tanda tanya besar di dalam negeri.

CNN melaporkan, Biya meninggalkan Kamerun pada 7 Juni 2026 untuk menjalani apa yang disebut kantornya sebagai "kunjungan pribadi singkat ke Eropa". Namun, hingga kini ia belum kembali. Ketidakhadirannya menjadi yang terlama tanpa jeda dari negara Afrika Tengah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Pekan lalu, juru bicara pemerintah René Emmanuel Sadi mengatakan kepada radio Prancis RFI bahwa Biya berada di Jenewa, Swiss, dan tidak sedang dirawat di rumah sakit. Meski demikian, ia tidak menjelaskan secara rinci lokasi maupun aktivitas presiden.

Situasi ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai kondisi kesehatan Biya dan siapa yang sebenarnya menjalankan pemerintahan selama ia berada di luar negeri.

Biya merupakan presiden kedua Kamerun sejak negara itu merdeka pada 1960 dan menjadi salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia. Ia pertama kali berkuasa pada 1982 setelah mengambil alih kepemimpinan ketika presiden saat itu mengundurkan diri. Dua tahun kemudian, ia memenangkan pemilihan presiden pertamanya dalam sistem satu partai.

Sejak sistem multipartai diberlakukan, Biya kembali memenangkan enam pemilu berikutnya. Tahun lalu, ia memenangkan masa jabatan kedelapan yang diperselisihkan lawan-lawan politiknya. Kemenangan itu berpotensi membuatnya tetap berkuasa hingga mendekati usia 100 tahun.

"Yang terbaik masih akan datang," kata Biya sebelum pemilu, yang oleh para penentangnya disebut penuh kecurangan dan diwarnai bentrokan mematikan antara demonstran dan aparat kepolisian.

Presiden yang jarang muncul di publik

Rumor mengenai kesehatan dan keberadaan Biya bukanlah hal baru di Kamerun. Ia dikenal sangat jarang tampil di depan publik, sehingga spekulasi tentang kondisinya kerap beredar.

Pemerintah beberapa kali membantah kabar bahwa Biya sakit parah atau telah meninggal dunia. Pada 2024, pemerintah bahkan melarang media membahas kesehatan presiden dengan alasan keamanan nasional.

Bagi jutaan warga Kamerun, Biya adalah satu-satunya presiden yang pernah mereka kenal.

Abit Riassai Acha, mahasiswa doktoral berusia 26 tahun di Universitas Yaoundé II, mengatakan generasinya tumbuh tanpa pernah mengenal presiden lain.

"Sejak kecil, Presiden Biya adalah satu-satunya presiden yang saya kenal, sehingga kepemimpinannya menjadi bagian dari seluruh pengalaman saya tentang Kamerun," katanya, dikutip dari CNN, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Acha, warga memang mulai terbiasa dengan absennya Biya dalam jangka waktu lama, tetapi hal itu tidak berarti mereka harus berhenti mempertanyakan bagaimana negara dijalankan.

"Karena ini sudah berulang kali terjadi selama bertahun-tahun, banyak warga Kamerun menjadi terbiasa. Tetapi terbiasa terhadap sesuatu tidak berarti orang harus berhenti bertanya bagaimana negara ini diperintah," ujarnya.

Tetap ambil keputusan dari luar negeri

Meski berada di luar negeri, Biya masih terus mengambil sejumlah keputusan penting. Awal bulan ini, pemerintah mengumumkan perombakan besar di tubuh militer yang disetujui presiden.

Sadi menepis kekhawatiran mengenai kekosongan kekuasaan. Ia menegaskan kepada RFI bahwa "Presiden Paul Biya masih hidup" dan "akan segera kembali".

Namun, seruan untuk mempertanyakan status kepresidenan Biya mulai bermunculan. Samuel Hiram Iyodi, kandidat oposisi muda yang maju dalam pemilu tahun lalu, meminta parlemen mengajukan permohonan kepada Dewan Konstitusi untuk menilai apakah absennya Biya dapat dianggap sebagai kekosongan jabatan presiden.

Meski demikian, langkah tersebut dinilai sulit berhasil karena dominasi partai berkuasa Cameroon People's Democratic Movement.

Analis politik Collins Molua Ikome, warga Kamerun yang kini tinggal di Jerman, mengatakan ia menyaksikan langsung berbagai persoalan negara itu saat berkunjung pada April lalu.

"Jalan-jalan di Kamerun sangat buruk. Saya bahkan menyaksikan kecelakaan yang menewaskan seseorang," katanya kepada CNN.

Ikome juga menyoroti pemadaman listrik yang sering terjadi, korupsi, dan minimnya lapangan kerja bagi generasi muda.

Profesor hukum publik dan internasional dari Universitas Dschang, Wilson Tamfuh, mengatakan institusi negara sebenarnya tetap dapat menjalankan pemerintahan ketika presiden mendelegasikan kewenangan kepada perdana menteri, sekretaris jenderal kepresidenan, dan para menteri.

Namun, menurutnya, persoalan utama adalah apakah pemerintah mampu menyelesaikan masalah-masalah mendasar yang telah berlangsung lama.

"Masyarakat ingin krisis di wilayah berbahasa Inggris diselesaikan, standar hidup diperbaiki, jalan yang lebih baik dibangun, jumlah pengangguran terdidik dikurangi, dan masih banyak lagi," katanya kepada CNN.

Selain konflik separatis di wilayah berbahasa Inggris, Kamerun juga menghadapi serangan kelompok Boko Haram di wilayah utara serta frustrasi ekonomi yang mendalam di kalangan anak muda.

Ikome menambahkan bahwa akses terhadap layanan kesehatan berkualitas masih menjadi kemewahan bagi banyak warga.

"Harapan hidup di negara ini masih di bawah 70 tahun. Namun, Biya jauh melampaui angka itu karena memiliki akses terhadap layanan kesehatan di luar negeri, sesuatu yang tidak bisa dinikmati warga Kamerun biasa karena kemiskinan," ujarnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Presiden Tertua Bikin Heboh, "Pelesir" ke Eropa dan Tak Pulang-Pulang


Most Popular
Features