Pengusaha Ngeluh Tarif Depo Mahal, Purbaya Segera Panggil Menhub
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan memanggil pengambil keputusan dari pihak Kementerian Perhubungan untuk menyelesaikan persoalan selisih tarif layanan depo kontainer kosong saat sidang Debottlenecnking.
Dalam sidang ini, Purbaya mendengar langsung keluhan adanya perbedaan tarif layanan lift-on dan lift-off di dalam dan luar pelabuhan yang menurut pengusaha depo kontainer bisa menimbulkan selisih hingga Rp4,8 triliun dengan asumsi ada volume 12 juta kontainer per tahun.
Ketua Umum Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Depelindo) Toto Dirgantoro mengungkapkan ke Purbaya bahwa sedianya sudah melaporkan permasalahan ini ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub), namun belum ada tindak lanjut konkret.
"Biaya lift-on itu jauh di atas tarif pelabuhan yang berlaku, terkait dengan tarif lift-on pelabuhan full kontainer, sedangkan di depo empty itu jauh di atas itu," ungkap Toto dalam sidang Debottlenecking diJuanda, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
"Di sinilah yang terjadi yang sehingga tidak terkontrol, tarif juga tidak terkontrol, sehingga sangat merugikan kita. Jika dengan 12 juta box per tahun, seperti tahun lalu kurang lebih, berarti selisih kemahalan itu bisa sekitar Rp 4,8 triliun," terangnya.
Toto juga menjelaskan ke Purbaya bahwa ada dugaan refund hingga Rp200.000 per kontainer yang ditujukan kepada perusahaan pelayaran asing yang juga memiliki layanan depo empty.
Purbaya yang mendengar hal tersebut langsung ingin menelpon pihak Kemenhub, namun tidak dapat tersambung. Pada akhirnya menkeu meminta Kemenhub untuk melakukan investigasi atas temuan dari asosiasi dan pengusaha Depo serta menghapus ketentuan yang memberi kewenangan bagi pelayaran asing mendirikan usaha depo empty.
Purbaya juga menegaskan akan memanggil kembali Kemenhub dua pekan lagi sekaligus akan menelpon Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam menyelesaikan persoalan ini.
"Nanti saya panggil lagi dua minggu dari sekarang untuk rapat lagi di sini, nanti saya undang Menteri-nya juga sekalian di sini biar bisa memutuskan sekalian."
(haa/haa)