Logam Tanah Jarang RI: Mineral yang Terlupakan
Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Technology Officer (CTO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Sigit Puji Santosa menyebut Logam Tanah Jarang (LTJ) merupakan mineral yang terlupakan. Bahkan belum lama ini, LTJ disebut juga tak ada di Indonesia.
Padahal menurut Sigit, Indonesia memiliki potensi LTJ yang besar, dan temuan ini didapatkan setelah dilakukan pemetaan.
"Kira-kira sekitar tahun 2024, awal kita melihat trend dunia, di mana LTJ menjadi komoditas yang sangat-sangat eksklusif, sangat mahal, dan tidak banyak yang punya," ungkap Sigit dalam Mindialogue 2026 dengan tema Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI, Rabu (12/8/2026).
Dia menyebutkan Danantara bersama Kementerian Diktisaintek dan ESDM akan membangun badan Direktorat Jenderal Mineral yang khusus mengelola LTJ. Dirjen tersebut nantinya bertugas mengembangkan hilirisasi LTJ.
"Logam tanah jarang kita harus bangun di 3 level. Hilirisasi level 1 adalah di bagian bahan bakunya, apakah itu SHP, sisa hasil produksi, atau main mineral yang ditambang langsung," ujar dia.
Dia juga menyebut LTJ bahkan nantinya diproses menjadi Neodymium-Praseodymium (NDPR) untuk kebutuhan kendaraan listrik.
"Jadi kita melihatnya secara holistik dari dulu sampai sekarang, red earth itu untuk yang EV," terang Sigit.
Kendati demikian, ia menuturkan tantangan terbesar saat ini yakni dalam proses pemisahan LTJ yang membutuhkan teknologi tinggi.
"Refinery inilah yang kita kejar, alhamdulillah kita mendapatkan mitra-mitra yang luar biasa, dan kita akan segera kembangkan ini bersama teman-teman di BRIN, bersama teman-teman di perguruan tinggi, dan intinya nanti kita akan ada kemandirian untuk pengelolaan pemisahan elemen ini secara nasional, ataupun dengan mitra-mitra dari luar," kata dia.
Seperti diketahui, karakteristik serta potensi LTJ atau rare earth elements (REE) dinilai sebagai komoditas mineral kritis masa depan Indonesia. Mineral itu memiliki peran penting dalam pengembangan industri teknologi, mulai dari ekosistem kendaraan listrik hingga peralatan medis dan militer.
Pengelolaan LTJ di Indonesia akan dilakukan secara langsung nantinya oleh PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Menurut Sigit, saat ini pihaknya tengah membangun Perminas sebagai perusahaan yang akan mengelola LTJ sekaligus mendorong pengembangan industri turunannya, termasuk industri magnet permanen.
(rah/rah)