CLOSE AD
MARKET DATA

Waspada Akhir Tahun, Harga-Harga Diperkirakan Naik Lagi

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
11 August 2026 12:45
Los Sayur Mayur di Pasar Santa Jakarta Selatan, Selasa, 14/4. (CNBC Indonesia/Hadijah Alaydrus)
Foto: Los Sayur Mayur di Pasar Santa Jakarta Selatan, Selasa, 14/4. (CNBC Indonesia/Hadijah Alaydrus)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memperkirakan harga barang eceran pada akhir tahun atau tepatnya Desember akan mengalami peningkatan yang dapat memengaruhi inflasi.

Hal tersebut tercermin dalam Indeks Ekspektasi harga Umum (IEH) Desember 2026 yang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

"Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Desember 2026, diperkirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Desember 2026 diprakirakan sebesar 168,1, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH November 2026 sebesar 167,5," mengutip laporan Survei Penjualan Eceran Juni 2026 oleh Bank Indonesia, Selasa (11/8/2026).

Perkiraan kenaikan harga eceran di akhir tahun seiring dengan meningkatnya ekspektasi penjualan eceran pada Desember 2026.

Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Desember 2026 tercatat meningkat sebesar 171,6, lebih tinggi dibandingkan periode November 2026 yang sebesar 153,8 yang disebabkan oleh hari libur Natal dan Tahun Baru.

Di sisi lain, perkiraan tekanan inflasi pada bulan depan atau September diperkirakan menurun. BI mencatat IEH September 2026 sebesar 155,2, lebih rendah dibandingkan dengan IEH pada Agustus 2026 sebesar 178,0.

Perkiraan harga eceran yang turun pada September sejalan dengan perkiraan penjualan eceran pada September 2026 menurun tercermin dari IEP September yang mengalami penurunan menjadi 148,3, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 159,8.

"Responden menginformasikan bahwa penurunan pada IEP September 2026 dipengaruhi oleh normalisasi pasca kegiatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI)," tulis survei tersebut.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pengakuan Bos Ritel: Harga Barang Sudah Naik 5-10% Akibat Dolar Tinggi


Most Popular
Features