MARKET DATA

Pengakuan Bos Ritel: Harga Barang Sudah Naik 5-10% Akibat Dolar Tinggi

Martya Rizky,  CNBC Indonesia
06 August 2026 18:55
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah mengakui harga sejumlah barang, khususnya produk impor, sudah mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu penyebab utama yang mendorong kenaikan harga tersebut.

Ia mengatakan, kenaikan harga sebenarnya sudah berlangsung sejak satu hingga dua bulan terakhir, sehingga bukan baru akan terjadi pada kuartal IV tahun ini.

"Kalau kita sudah naik dari kemarin sih, ya. Jadi sebenarnya kuartal IV-2026 kalau dolarnya turun, ya pasti kita juga akan mengikuti," kata Budihardjo saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Ia menyebut kenaikan tersebut terutama berlaku untuk barang-barang impor yang terdampak pelemahan kurs rupiah.

Budihardjo pun mengungkapkan besaran kenaikan harga berada di kisaran 5% hingga 10%. "Ya 5% sampai 10%," sebut dia.

Meski demikian, Hippindo menilai yang paling dibutuhkan pelaku usaha bukanlah kurs pada level tertentu, melainkan kestabilan nilai tukar agar perusahaan dapat menghitung harga jual dengan lebih pasti.

"Sebenarnya dolar atau Rupiah itu yang penting stabil ya, jangan naik-turun gitu ya. Jadi kalau stabil, berapapun ya kita bisa menghitung harga jual. Sebenarnya yang kita harapkan itu kestabilan kursnya. Tapi kalau memang naik, ya kita selama ini sudah ada kenaikan ya, memang harus naik kalau memang belinya barang impor. Namun dengan efisiensi, kami melakukan dengan perkembangan teknologi sekarang, jadi itu semua juga akan kami coba tekan untuk kenaikan itu. Ya," jelasnya.

Di sisi lain, Budihardjo mengakui kondisi tersebut turut menekan keuntungan pelaku usaha ritel. Menurutnya, meski omzet penjualan masih meningkat, laba perusahaan justru tergerus karena berbagai biaya naik, sementara pelaku usaha berusaha menahan kenaikan harga melalui diskon dan efisiensi.

"Omzet naik, tapi memang ada penurunan profit. Nah, itu memang ada strategi untuk menaikkan penjualan dengan menekan profit. Jadi ya dengan diskon-diskon itu otomatis kan berkurang ya profit kami. Nah, ini adalah kiat sebenarnya salah satu cara untuk mempertahankan penjualan," ucap dia.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah juga ikut menggerus margin keuntungan perusahaan karena pelaku usaha berupaya menjaga harga jual agar tidak naik terlalu tinggi di tingkat konsumen.

"Karena masalah ini kan sekarang biaya dan kenaikan dolar tadi. Rupiah melemah itu kan juga menggerus profit kita, karena kita berusaha untuk menstabilkan harga, ya seperti itu" pungkasnya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Hari-Hari Ini di RI Terasa Makin Mahal, Apa yang Sebenarnya Terjadi?


Most Popular
Features