Kejadian Aneh di RI, Pabrik Tekstil Lama Bertumbangan-Muncul yang Baru

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Selasa, 11/08/2026 11:50 WIB
Foto: Getty Images/Owen Franken

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia masih akan mencatat pertumbuhan pada 2026. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta bahkan memproyeksikan industri TPT dapat tumbuh sekitar 5% hingga akhir tahun.

Namun, pertumbuhan tersebut menyimpan paradoks. Kinerja industri yang positif saat ini terutama ditopang oleh masuknya investasi baru, sementara sejumlah investasi lama masih tertekan akibat tidak mampu bersaing dengan produk impor murah.

"Secara statistik, kuartal I-2026 dan kuartal II-2026 angkanya juga masih tumbuh, bahkan kita bisa proyeksi akhir tahun bisa tumbuh sekitar 5%. Pertumbuhan investasi baru menjadi faktor utama," kata Redma kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (11/8/2026).


Namun, menurutnya, angka pertumbuhan industri tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi industri TPT secara keseluruhan. Sebab, pertumbuhan tersebut belum memperhitungkan investasi yang hilang akibat penutupan pabrik maupun mesin-mesin produksi yang sudah dijual atau di-scrap.

"Tapi pertumbuhan kan tidak menghitung investasi yang hilang akibat pabrik tutup, mesin-mesin yang di-scrap atau dijual, dan dalam perhitungan kasarnya dari sisi tenaga kerja, investasi baru ini belum bisa mengimbangi jumlah pekerja yang di PHK sebelumnya," ujarnya.

Redma menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena adanya investasi baru, khususnya dari penanaman modal asing (PMA), yang masuk dengan membawa permesinan modern. Di sisi lain, industri yang sudah lebih dulu beroperasi justru menghadapi tekanan akibat persaingan dengan barang impor murah dalam beberapa tahun terakhir.

"Jadi kondisi paradoks ini disebabkan oleh investasi asing (PMA) yang baru masuk dengan permesinan modern. Namun disisi lain, investasi yang ada sebelumnya justru lebih dahulu tertekan, akibat tidak bisa bersaing dengan barang impor murah dalam 5 tahun terakhir," tutur dia.

Meski demikian, jam kerja di sebagian besar perusahaan TPT saat ini disebut sudah kembali normal. Hanya saja, tingkat produksi masih disesuaikan dengan kemampuan masing-masing perusahaan dalam memperoleh bahan baku.

"Jam kerja sebagian besar perusahaan sudah dalam kondisi normal, meskipun jumlah produksi disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dalam membeli bahan baku," ungkapnya.

Redma mengatakan, pihaknya kini tidak lagi menghitung secara khusus jumlah pabrik TPT yang telah tutup. Ia menuturkan, memang masih terdapat penutupan pabrik, tetapi skalanya tidak sebesar yang terjadi pada 2023-2024.

"Kami sudah tidak lagi menghitung pabrik yang tutup, memang ada beberapa, tapi tidak sebanyak penutupan pabrik seperti tahun 2023-2024. Toh juga meski banyak pabrik tutup, pemerintah masih merasa aman dan kinerjanya baik-baik saja," kata Redma.

Dia memperkirakan paradoks tersebut masih akan berlanjut. Penutupan pabrik masih berpotensi terjadi, terutama pada perusahaan yang memiliki kemampuan keuangan terbatas, dan harus menghadapi persaingan produk impor maupun kompetisi di pasar ekspor.

"Paradoks ini akan masih terus terjadi, penutupan pabrik masih akan terus ada, terutama bagi perusahaan dengan kemampuan keuangan pas-pasan dan harus berjibaku bersaing dengan barang impor, atau yang pasar ekspornya diambil oleh Vietnam dan India," ujarnya.

Di sisi lain, investasi baru diperkirakan tetap masuk karena Indonesia memiliki pasar domestik yang besar. Struktur biaya produksi di dalam negeri juga dinilai masih cukup kompetitif untuk mendukung persaingan di pasar ekspor.

"Tapi di sisi lain juga, investasi baru dengan mesin-mesin modern khususnya dari PMA masih akan terus masuk, karena pasar domestik kita yang sangat besar, dan struktur biaya yang masih cukup kompetitif untuk bersaing di pasar ekspor," jelas Redma.

Meski prospeknya masih terbuka, Redma menilai terdapat dua persoalan yang perlu dibenahi pemerintah agar investasi baru dapat terus masuk dan industri lama tetap bertahan.

"Dua hal yang masih akan jadi hambatan investasi adalah proses perizinan, dan pemerintah yang secara konsisten masih memelihara persaingan yang tidak adil di pasar domestik," pungkasnya.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Purbaya Optimistis Ekonomi Semester II 2026 Tumbuh Hingga 6%