Bersaing Ketat dengan Vietnam, RI Punya Potensi di Industri Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Prospek permintaan lahan industri di Indonesia diprediksi masih berpotensi besar. Permintaan masih akan mengalir, terutama dari sektor-sektor yang diprediksi berpeluang tumbuh jangka panjang.
Demikian mengutip Laporan Kawasan Industri Jakarta Q2 2026 yang dirilis Colliers Indonesia, mengacu pada potensi bisnis kawasan industri di Jabodetabek. Ke depan, kawasan industri di wilayah Jabodetabek disebut masih akan tetap tangguh secara fundamental. Meski di tengah masih selektifnya iklim investasi.
Colliers mencatat, sepanjang kuartal II-2026, total penyerapan lahan industri di kawasan Jabodetabek mencapai sekitar 37 hektare (ha). Angka tersebut mencerminkan aktivitas pasar yang lebih selektif dibandingkan periode sebelumnya. Bahkan disebut sedang dalam fase masuknya investasi baru.
Ekonomi Indonesia yang diyakini semakin bertumbuh dan berkembang, meluasnya ekonomi ekosistem digital, serta berlanjutnya proyek-proyek hilirisasi industri disebut-sebut jadi faktor berpengaruh.
Pasar kawasan industri di Indonesia disebut sedang dalam masa transisi menuju transaksi berbasis nilai, daripada hanya sekadar berbasis volume.
Menurut Colliers, sektor-sektor dengan prospek pertumbuhan jangka panjang menjanjikan menjadi penopang bisnis kawasan industri di Indonesia, dalam hal ini di wilayah Jabodetabek. Terutama sektor-sektor pusat data, logistik, industri terkait kendaraan listrik, elektronik, industri FMCG, layanan kesehatan, serta ekspansi oleh penyewa kawasan industri eksisting.
Namun, analisis berbeda diberikan terkait industri manufaktur padat karya dan berorientasi ekspor. Menurut Colliers, sektor-sektor ini kemungkinan akan tetap lebih berhati-hati karena investor terus mengevaluasi daya saing regional, biaya operasional, dan kepastian kebijakan sebelum memutuskan merealisasikan ekspansi besar.
Di sisi lain, pengembang kawasan industri pun disebut mulai fokus pada daya saing, mengantisipasi persaingan di masa depan. Tidak lagi hanya fokus pada perluasan penyediaan lahan. Tapi kini mulai mengutamakan kemampuan menyediakan ekosistem industri terintegrasi yang didukung infrastruktur andal, kapasitas utilitas yang dapat disesuaikan, serta kepastian operasional.
"Pasokan listrik yang memadai, infrastruktur yang tersedia dan memadai, dan konektivitas akan menjadi faktor pembeda yang semakin penting. Sejalan pergeseran investasi industri menuju industri bernilai tambah tinggi dan padat teknologi," demikian dikutip dari laporan Colliers, Senin (8/10/2026).
Bersaing dengan Vietnam
Sementara, Indonesia pun harus menghadapi persaingan dengan Vietnam. Sejumlah faktor disebut-sebut memengaruhi lanskap persaingan kawasan industri antara Indonesia dan Vietnam. Mulai dari kepastian kebijakan dan sentimen investor, kepercayaan investasi yang melampaui insentif, hingga kesesuaian lokasi dengan kebutuhan sektor usaha.
Dalam hal ini, Colliers melihat Indonesia memiliki keunggulan kompetitif.
Disebutkan, daya saing Indonesia semakin bergeser melampaui batasan konvensional berbasis biaya. Menyusul semakin intensifnya penggunaan teknologi dalam produksi industri dan semakin canggihnya rantai pasok. Apalagi, investor pun kini lebih mengutamakan kepastian operasional jangka panjang dibandingkan pertimbangan biaya jangka pendek.
"Transisi ini jadi peluang sekaligus tantangan. Meski persaingan antarnegara ASEAN sebagai tujuan investasi manufaktur diperkirakan akan semakin ketat, Indonesia tetap memiliki posisi yang kuat untuk menarik investasi di masa depan, dengan memanfaatkan skala pasar domestik, koridor industri strategis, serta ekonomi digital yang terus berkembang," tulis Colliers, dikutip Senin (10/8/2026).
"Perbaikan berkelanjutan terkait konsistensi regulasi, ketersediaan infrastruktur dan pasokan listrik jadi faktor krusial dalam memperkuat posisi Indonesia," tambah Colliers.
(dce/dce)